3 November 2014
98, 98, 97, 96, 95 menyala merah lampu lalu
lintas menghitung mundur. Tanda pengemudi harus berhenti hingga lampu menghijau.
saya pun menekan kaki kanan pada pedal rem, disusul pa polisi dengan matik biru
persis sebelah kanan saya. Saya mendapati pa polisi santai berkendara dengan
tangan kiri memegang buku batik ungu ukuran 16x 21 cm. Terlihat pa polisi tidak
bisa memegang stang kiri dengan sempurna lantaran tangan kiri yang menggenggam
buku tersebut.
“Pak.. Pak..!” Ku panggil pa polisi tersebut.
Pak polisi belum juga menoleh, saya coba panggil
lagi..
“pak.. pak..”, pak polisi mendengar panggilan saya dan menengok
“pak, kalo bapa pegang buku seperti itu bapak ngeremnya bagaimana..?, tanyaku
Pak polisi pun tersenyum, tergambar rona malu di
wajahnya. Entah mencari-cari apa, tatapan bola mata pa polisi berpindah-pindah
dari stang kiri, buku, stang kanan, kemudia pa polisi menjawab
“kan masih bisa pake rem kanan”, jawabnya lega, seolah berhasil menenumkan
jawaban yang brilian.
“ga safety lah pa, itu kan rem depan..” ku
menimpali cepat.
Kini pa polisi mencoba-coba cara baru agar bisa
mengerem roda belakang , walau tangan kirinya menggenggam buku..
“ini bisa ngerem..” jawabnya bernada solutif sambil menunjukan tangan kirinya
tetap bisa mengerem sambil menggenggam buku.
Mendengar jawabanya, saya hanya mengernyitkan
dahi dengan kepala di tarik kebelakang tiga senti meter sebagai ekspresi
keheranan. Melihat ekspresi saya, polisi itupun menyadari tindakanya yang tidak
baik untuk di contoh. Akhirnya pa Polisi itu bertanya,
“terus gimana coba..?
“Pake tas pa, kaya saya ni..” sambil menunjukan tas kusam model selempang
kesayangan saya.
“Tadi ada kecelakaan, jadi saya harus buru-buru bawa buku ini untuk pencatatan”
dalih pak polisi
Saya pun terdiam dan kembali menatap angka yang
semakin rendah nilainya di papan lampu lalu lintas, sambil membatin,
“Pak Polisi – pak polisi… Bisa saja berdalih,
padahal saat saya di tilang alasan apapun tidak didengarkan ..!”
sewaktu TK saya adalah salah satu yang
menidolakan profesimu. Tugas mulia, seragam gagah, badan tegap dengan lencana,
bordir dan berbagai aksesoris yang menambah kesan keren. Namun setelah saya
tumbuh besar kekaguman itu sirna, saya mulai paham mengapa citra pengayom
masyarakat menjadi begitu buruk. Budaya korupsi, kolusi dan nepotismu melekat
dari hulu hingga hilir. Labelmu pun beragam dari pengemis berseragam hingga
preman berseragam. Permasalahan kusut di dunia kepolisian memang sudah
sistematis, diawali dari perekrutan anggota baru yang mengharuskan pendaftar
merogoh kocek berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah, hingga ketika sudah
menjadi anggota polisi yang di pikirkan adalah bagaimana agar balik modal.
Kualifikasi ideal di tutup oleh sogokan rupiah. Perilaku buruk petingginya pun
semakin membuat masyarakat tidak percaya, seperti kasus korupsi simulator SIM
yang setelah diselidiki pelakunya memiliki kekayaan yang mencengangkan.
“Borok-borok” yang menjalar hampir diseluruh
tubuh kepolisisan indonesia tidak berarti semua polisi Indonesia berprilaku
buruk. Citra kepolisian Indonesia yang rusak diakibatkan olek oknum-oknum
kepolisian yang tidak bertanggung jawab. Karena jumlah oknum-oknum yang
berprilaku buruk besar, besar juga ketidak percayaan masyarakat. Masih ada
polisi-polisi yang memiliki integritas dan semoga saja meraka bisa konsisten
dan diberi keberanian untuk mengobati borok-borok yang sudah parah.

0 komentar:
Posting Komentar