Selasa, 30 Januari 2018

Dalih Pak Polisi



 3 November 2014


98, 98, 97, 96, 95 menyala merah lampu lalu lintas menghitung mundur. Tanda pengemudi harus berhenti hingga lampu menghijau. saya pun menekan kaki kanan pada pedal rem, disusul pa polisi dengan matik biru persis sebelah kanan saya. Saya mendapati pa polisi santai berkendara dengan tangan kiri memegang buku batik ungu ukuran 16x 21 cm. Terlihat pa polisi tidak bisa memegang stang kiri dengan sempurna lantaran tangan kiri yang menggenggam buku tersebut.
“Pak.. Pak..!” Ku panggil pa polisi tersebut.
Pak polisi belum juga menoleh, saya coba panggil lagi..
                “pak.. pak..”, pak polisi mendengar panggilan saya dan menengok
                “pak, kalo bapa pegang buku seperti itu bapak ngeremnya bagaimana..?, tanyaku
Pak polisi pun tersenyum, tergambar rona malu di wajahnya. Entah mencari-cari apa, tatapan bola mata pa polisi berpindah-pindah dari stang kiri, buku, stang kanan, kemudia pa polisi menjawab
                “kan masih bisa pake rem kanan”, jawabnya lega, seolah berhasil menenumkan jawaban yang brilian.
“ga safety lah pa, itu kan rem depan..” ku menimpali cepat.
Kini pa polisi mencoba-coba cara baru agar bisa mengerem roda belakang , walau tangan kirinya menggenggam buku..
                “ini bisa ngerem..” jawabnya bernada solutif sambil menunjukan tangan kirinya tetap bisa mengerem sambil menggenggam buku.
Mendengar jawabanya, saya hanya mengernyitkan dahi dengan kepala di tarik kebelakang  tiga senti meter sebagai ekspresi keheranan. Melihat ekspresi saya, polisi itupun menyadari tindakanya yang tidak baik untuk di contoh. Akhirnya pa Polisi itu bertanya,
                “terus gimana coba..?
                “Pake tas pa, kaya saya ni..” sambil menunjukan tas kusam model selempang kesayangan saya.
                “Tadi ada kecelakaan, jadi saya harus buru-buru bawa buku ini untuk pencatatan” dalih pak polisi
Saya pun terdiam dan kembali menatap angka yang semakin rendah nilainya di papan lampu lalu lintas, sambil membatin,
“Pak Polisi – pak polisi… Bisa saja berdalih, padahal saat saya di tilang alasan apapun tidak didengarkan ..!”
sewaktu TK saya adalah salah satu yang menidolakan profesimu. Tugas mulia, seragam gagah, badan tegap dengan lencana, bordir dan berbagai aksesoris yang menambah kesan keren. Namun setelah saya tumbuh besar kekaguman itu sirna, saya mulai paham mengapa citra pengayom masyarakat menjadi begitu buruk. Budaya korupsi, kolusi dan nepotismu melekat dari hulu hingga hilir. Labelmu pun beragam dari pengemis berseragam hingga preman berseragam. Permasalahan kusut di dunia kepolisian memang sudah sistematis, diawali dari perekrutan anggota baru yang mengharuskan pendaftar merogoh kocek berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah, hingga ketika sudah menjadi anggota polisi yang di pikirkan adalah bagaimana agar balik modal. Kualifikasi ideal di tutup oleh sogokan rupiah. Perilaku buruk petingginya pun semakin membuat masyarakat tidak percaya, seperti kasus korupsi simulator SIM yang setelah diselidiki pelakunya memiliki kekayaan yang mencengangkan.

“Borok-borok” yang menjalar hampir diseluruh tubuh kepolisisan indonesia tidak berarti semua polisi Indonesia berprilaku buruk. Citra kepolisian Indonesia yang rusak diakibatkan olek oknum-oknum kepolisian yang tidak bertanggung jawab. Karena jumlah oknum-oknum yang berprilaku buruk besar, besar juga ketidak percayaan masyarakat. Masih ada polisi-polisi yang memiliki integritas dan semoga saja meraka bisa konsisten dan diberi keberanian untuk mengobati borok-borok yang sudah parah.

0 komentar:

Posting Komentar