hamba mencoba membayangkan keindahan wajahmu kekasih
sebagai pengobat rindu diri yang ringkih
namun riwayat tentangmu megalahkan imajinasi
keagungan derajatmu tak terganti
derajatmu terlalu wangi tergambar kepala yang terkotori
kekasih, ingin hamba mengadu
tentang umatmu yang sulit untuk menyatu
begitu mudah hanyut dalam nafsu
mengesampingkan akal sehat dan wahyu
Engkau pernah bersabda tentang buih yang banyak
terombang-ambing ditimang ombak
pandai berteriak namun tak serempak
asyik dalam urusan yang kerdil dan terkotak-kotak
Kekasih, isyaratmu nyata telah nampak
Hampir saja aku berdoa memintamu kembali turun
tak tahan menangis menahan bingung
dimana-mana menyaksikan penguasa linglung
sedang jelata lapar dan murung
dibodohi, diinjak, dijerat kemiskinan yang memasung
Kekasih, surat cintamu banyak dihafal
Berwarna-warni jutaan jilid terjual
tapi masih jarang yang mengepal
melawan himah yang dangkal
Lari dari peradaban yang tertinggal
merangkul marjinal
merajut keadilan sosial
Kekasih, yâ rofî’asy-syâni waddaroji
Salam untukmu, cahaya hati
Pencerah bumi
Sang Ummii
sahabat kaum terdzalimi
semoga cinta ini abadi
Meski tak sedalam, seperti yang kau beri
di ahir hayat, kau memanggil kami
ummatii...
ummatii...
GTP, 23 November 2017
0 komentar:
Posting Komentar