Selasa, 30 Januari 2018

Rumah Tangga



Darunnajah, 25 Juli 2016


Rumah tangga adalah organisasi kecil yang terbangun diatas fondasi ikatan lahir dan batin antara suami dan istri, tersimpul dalam perjanjian agung. Rumah tangga memiliki misi pengabdian dan kekhalifahan sebagai langkah perjuangan menuju keridhaan Tuhan.
Sebagai satu-satunya organisasi yang mampu melakukan regenerasi secara biologis, rumah tangga memiliki peran strategis dalam penentuan kualitas dan kuantitas generasi pelanjut. Mengingat, peradaban yang unggul tegak diatas generasi yang unggul.
Konsep rumah tangga diatas terbentuk melalui kesamaan visi antara suami dan istri, hal ini yang di sebut pentingnya pernikahan sekufu. Istri adalah mitra perjuangan bagi suami, begitupun sebaliknya. Suami adalah mitra perjuangan bagi istri. Keduanya merupakan “pakaian” bagi satu sama lain, sehingga memiliki keniscayaan saling menjaga, melindungi, menguatkan, memperindah dan melengkapi.
Suami sebagai imam dan istri sebagai makmum terbingkai dalam suasana yang demokratis, artinya prinsip musyawarah tetap menjadi metode pengambilan kebijakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.  Hal ini untuk menjaga proporsionalitas kewajiban dan hak antara suami dan istri, sehingga terwujud rumah tangga yang berkeadilan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan. Maka komunikasi yang kondusif menjadi syarat mutlak untuk mencapai hal tersebut.
Kehadiran anak merupakan materi duniawi yang fana. Tidak ubahnya harta, tahta, bahkan suami atau istri itu sendiri. Semua itu hanya amanah sebagai titipan-titipan Tuhan yang harus di gunakan sebagai penunjang perjuangan. Harta yang di titipkan menjadi hak untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan menjadi kewajiban untuk menggunakannya di jalan kebajikan dengan mengkonsumsi yang halal dan baik serta mendistribusikan kepada yang membutuhkan melalui zakat dan shadaqah. Tahta, baik dalam jangkauan kekuasaan luas maupun sempit, turut menentukan derajat kemuliaan di hadapan Tuhan, parameternya adalah seberapa kesungguhan tahta tersebut di orientasikan dan di ejawantahkan dalam koridor perjuangan. Beitupun anak, merekalah pelanjut estafet perjuangan. Panji-panji yang di didik untuk memperbesar peran manusia sebagai hamba, wakil Tuhan dan sekaligus umat terbaik yang di utus untuk umat manusia. Wallahu a'lam bisshowab.

0 komentar:

Posting Komentar