Darunnajah, 25 Juli 2016
Rumah tangga adalah organisasi kecil yang
terbangun diatas fondasi ikatan lahir dan batin antara suami dan istri,
tersimpul dalam perjanjian agung. Rumah tangga memiliki misi pengabdian dan
kekhalifahan sebagai langkah perjuangan menuju keridhaan Tuhan.
Sebagai satu-satunya organisasi yang mampu
melakukan regenerasi secara biologis, rumah tangga memiliki peran strategis
dalam penentuan kualitas dan kuantitas generasi pelanjut. Mengingat, peradaban
yang unggul tegak diatas generasi yang unggul.
Konsep rumah tangga diatas terbentuk melalui
kesamaan visi antara suami dan istri, hal ini yang di sebut pentingnya
pernikahan sekufu. Istri adalah mitra perjuangan bagi suami, begitupun
sebaliknya. Suami adalah mitra perjuangan bagi istri. Keduanya merupakan
“pakaian” bagi satu sama lain, sehingga memiliki keniscayaan saling menjaga,
melindungi, menguatkan, memperindah dan melengkapi.
Suami sebagai imam dan istri sebagai makmum
terbingkai dalam suasana yang demokratis, artinya prinsip musyawarah tetap
menjadi metode pengambilan kebijakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Hal ini untuk menjaga proporsionalitas kewajiban dan hak antara suami dan
istri, sehingga terwujud rumah tangga yang berkeadilan berdasarkan nilai-nilai
ketuhanan. Maka komunikasi yang kondusif menjadi syarat mutlak untuk mencapai
hal tersebut.
Kehadiran anak merupakan materi duniawi yang
fana. Tidak ubahnya harta, tahta, bahkan suami atau istri itu sendiri. Semua
itu hanya amanah sebagai titipan-titipan Tuhan yang harus di gunakan sebagai
penunjang perjuangan. Harta yang di titipkan menjadi hak untuk memenuhi
kebutuhan hidup, dan menjadi kewajiban untuk menggunakannya di jalan kebajikan
dengan mengkonsumsi yang halal dan baik serta mendistribusikan kepada yang
membutuhkan melalui zakat dan shadaqah. Tahta, baik dalam jangkauan kekuasaan
luas maupun sempit, turut menentukan derajat kemuliaan di hadapan Tuhan,
parameternya adalah seberapa kesungguhan tahta tersebut di orientasikan dan di
ejawantahkan dalam koridor perjuangan. Beitupun anak, merekalah pelanjut
estafet perjuangan. Panji-panji yang di didik untuk memperbesar peran manusia
sebagai hamba, wakil Tuhan dan sekaligus umat terbaik yang di utus untuk umat
manusia. Wallahu a'lam bisshowab.

0 komentar:
Posting Komentar