Yogyakarta, 14 November
2017
Belakangan,
santer terdengar bahwa pangeran Arab yang bernama Muhammad bin Salman ingin
merubah arab saudi menjadi negara yang moderat. Putra mahkota tersebut
mencanangkan reformasi dan menjadikan petro dolar terbuka terhadap dunia dan
semua agama. Kepada media pangeran menyatakan bertekad untuk menghapuskan
sisa-sisa ekstrimisme dengan segara. Dalam Sebuah konferensi ekonomi Riyadh
(24/10), laki-laki 32 tahun yang pernah
menjabat sebagai Ketua Dewan urusan Ekonomi dan Pembangunan tersebut menjelaskan bahwa kami (Saudi Arabia) ingin
hidup normal. Sebuah kehidupan agama yang diwujudkan menjadi toleransi, menjadi
tradisi keramahan kami.
Fenomena
di atas sudah terbaca dan dengan yakin buya Safii meramalkan. Dalam
tanggapannya terhadap beberapa penulis yang tertuang dalam buku Politik
Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita, buya menuliskan:
Sejak
beberapa dasawarsa yang lalu, Saudi Arabia telah membungkam mazhab lai selain
Wahabisme. Bahkan berkat Petro dolar, Islam dalam jubah wahabisme dikatakan
sebagai Islam satu-satunya. Pemikiran keagamaan yang dikerangkengkan dalam
pasungan kekuasaan lambat atau cepat tak akan bertahan lama, pasti akan mencari
jalan keluar untuk menghirup udara kebebasan. Jiwa dan akal merdeka manusia
tidak bisa berlama-lama dibenam dalam ketertindasan teologis dan politis.
Buya
melanjutkan:
Dalam
kasus ini, politik identitas agama untuk meraih kebebasan menemukan
pembenarannya. Setelah dibebaskan dari Vatikan yang ingin direformasinya itu,
misalnya, Hans justru memperoleh sambutan dunia bebas dengan sukacita, apalagi
dengan Global Ethic Foundation yang didirikannya sejak beberapa tahun yang
lalu, ia telah semakin mengukuhkan namanya sebagai pemikir religius bebas.
Dari
pemaparan buya yang ditulis pada tahun 2010 tersebut dapat ditangkap bahwa,
tidak hanya Saudi Arabia telah diramalkan tidak lagi menjadi negara tertutup,
namun juga Vatikan. Menyusul sistem komunis yang dianut Uni Soviet yang telah
bangkrut berbarengan dengan Perang Dunia II.
Kita
tunggu saja, apakah ramalan buya benar-benar terbukti?

0 komentar:
Posting Komentar