Selasa, 30 Januari 2018

Meng’hahaha’kan Dunia



Jogja, 2 April 2017

Sejenak menjaga jarak dengan riuhnya kehidupan. Riuh yang tertangkap dari kerumunan manusia di pasar, jalan raya, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah hingga di sosial media.  Sungguh penuh teka teki yang mustahil terjawab secara benar-benar tuntas. Ambil satu contoh, dapat diamati keberadaan si miskin yang begitu mengenaskan, sangat kontradiktif dengan segelintir konglomerat yang menggila dalam bermegah-megahan. Cakupan yang lebih luas, ada negara yang menderita, diterpa wabah kelaparan, di negara belahan dunia lain ada negara yang begitu ‘asyik’ terus memacu, mengukir peradaban.

Teringat analisis Paulo Friere yang membagi kesadaran menjadi 3 (tiga), magis, naif dan kritis. Si magis akan menatap dunia dengan penuh kepasrahan dan menyikapinya dengan ritual-ritual yang irasional. Mengganggap semuanya merupakan skenario yang telah diatur sang maha kuasa, dan manusia hanya bisa berdoa agar sang maha kuasa senantiasa memberikan kebaikan.
lain si magis, lain si naif. Si naif tidak meyakini fenomena dunia yang terjangkit ketimpangan-ketimpangan merupakan sepenuhnya otoritas sang maha kuasa. Semua layaknya games yang meniscayakan menghempaskan yang tidak mampu bersaing, menyingkirkan yang tak memiliki profesionalitas.  Jika tidak ingin tertindas, bersegeralah meningkatkan kapabilitas, kapasitas agar mampu bersaing, dan menang.

Si kritis memiliki pandangan lain. Bagi si kritis, si magis dan si naif tidaklah komprehensif dalam meraba dunia. Si kritis meyakini ada sistem yang bekerja sehingga pemandangan-pemandangan konyol tetap saja langgeng menghiasi kehidupan. Ada permainan terstruktur yang rancang oleh bedebah yang tuna nurani. Tega melibas apa saja yang ada dihadapan mata, asal kepentingan yang menyeruak dari nafsu yang membuncah terpenuhi. Maka, tidak ada perlawanan yang lebih menghantam kecuali dengan mengganti dengan sistem yang lebih humanis, merestrukturasi masyarakat melalui inkremental, reformasi hingga revolusi.

Abdul Halim Sani merasa kurang dengan si magis, si naif dan si kritisnya Paulo. Selanjutnya menambahkan satu kesadaran bernama si profetik. Sederhananya si profetik adalah perkawinan antara si magis dan si kritis. Hanya saja si magis yang menjadi bibit si profetik bukan lah magis yang menina bobokan menuju kepasrahan. Si magis yang satu ini justru mengkristal menjadi kritis, menjadikan isyarat-isyarat dari sang maha kuasa sebagai motivasi untuk melakukan restrukturasi dan membunuh sistem yang tidak manusiawi. Si profetik juga meyakini kekuatan sang maha kuasa diatas segalanya sekaligus satu-satunya kekuatan penentu. Tentu saja demikian, sang maha kuasa bagi si profetik adalah pencipta sealigus penjaga rumus kehidupan yang sungguh penuh misteri, abstrak dan sarat relatifitas. Si profetik hanya tunduk dan patuh pada sang maha kuasa melalui perlawanan-perlawanan yang tulus demi terciptanya senyum bumi berona keadilan dan perdamaian.
Setelah berselancar meniti kesadaran demi kesadaran, tibalah saatnya kembali membuang jarak dengan riuhnya kehidupan. Kembali bergumul dengan pasar, kemacetan, sekolah, sosial media dan sebagianya. Saat itu mata kembali terbuka, menyadari betapa kerdilnya keberadaaan diri dibandingkan dengan sitem yang menggurita di bumi. Berangkat dari itu, maka upaya mengganti sistem, merestrukturasi ‘hanyalah’ PR besar yang harus diselesaikan bertahap dan turun-temurun. Akhirnya, yang dapat dilakukan ‘hanyalah’ melawan semampunya, berperan sebisanya, sambil meng”hahaha”kan dunia.

0 komentar:

Posting Komentar