Selasa, 30 Januari 2018

Re-esensi Puasa



KAMDADA, 20 November 2017




Puasa dalam bahasa arab disebut Shaum, artinya menahan. Dalam KBBI, puasa adalah menghindari makan, minum, dan sebaginya dengan sengaja. Dalam islam, puasa merupakan ibadah maghdah yang telah memiliki ketentuan-ketentuan yang diatur secara detail. Di luar Islam, masih banyak jenis puasa dengan berbagai fungsi dan tujuannya masing-masing.
Ketika kecil, anak muslim mulai dilatih untuk puasa ramadhan. Di mulai dengan turut menikmati hidangan buka dan merasakan nuansa gembira ketika magrib berkumandang. Kemudian ikut santap saur dengan kondisi kantuk yang masih mengelayut di mata. Dilanjutkan dengan puasa setengah hari, tiga perempat hari hingga menjalankan puasa penuh dan terbiasa melakukan puasa.

Seiring berjalannya waktu, orientasi manusia dalam menjalankan puasa pun beragam. Mulai dari ikut-ikutan, demi hadiah dari orang tua, kompetisi dengan teman, mendapatkan ganjaran dari tuhan, kesehatan hingga bentuk terimakasih kepada Tuhan. Semua sah-sah saja, dan orientasi-orientasi tersebut menujukan derajat manusia itu sendiri.

Satu hal yang menarik, puasa merupakan rukun Islam ke-3. Sebuah posisi yang sangat strategis setelah syahadat dan shalat. Tentu Tuhan punya maksud mengenai puasa yang lebih dahulu disebutkan di banding zakat dan Haji.

Jika kita melihat kembali filosofi manusia, maka kita akan mendapati struktur manusia yang terdiri dari akal, dan nafsu. Keduanya menjadi hal yang sama-sama penting dan memiliki manfaat yang besar. Tinggal bagaimana manusia menggunakannya secara adil. Nah, keadilan tersebut tidak mungkin tercapai tanpa didasari dengan ilmu. Secara sederhana, hidup adalah seni nge-gas nge-rem. Artinya, pengendara yang baik, yang selamat, yang merasakan kenikmatan adalah yang tau kapan saatnya untuk nge-gas, dan kapan saatnya untuk nge-rem. Pengetahuan dan keterampilan berkendara itulah yang dimaksud dengan ilmu.

Dari penjelasan diatas, sudah sepantasnya puasa memiliki kedudukan yang istimewa. Karena puasa merupakan ketrampilan mendasar yang harus dimiliki manusia. Keterampilan untuk mengarungi kehidupan agar selamat, nikmat dan bahagia dengan mengendalikan nafsu dengan memahami kapan untuk menahan dan kapan untuk melampiaskan. Puasa melatih dengan mengajarkan manusia untuk menahan dari hal-hal mendasar, seperti makan, minum, dan sex.

Dengan demikian manusia yang sudah khatam dengan puasanya, maka akan selamat, bahagia, dan merasakan kehidupan yang nikmat. Pejabat negara tidak tergiur korupsi, karena keinginanya untuk menggunakan uang untuk kepentinganya berhasil ditahan. Pemuda yang merasakan keinginan untuk bercumbu mesra dengan lawan jenis yang bukan mahram, akan menahannya dan tidak melakukan hal-hal yang kenikmatannya sesaat. Saudagar yang ingin menimbun harta, menahan keinginannya demi berbagi rizki dengan kaum mustadz’afin. Suami yang bosan dengan istri pertama, akan bersabar dan menahan diri untuk selingkuh atau menikah lagi. Seorang pejuang akan berusaha bertahan agar tidak menyerah. Mahasiswa semester akhir, akan menahan rasa lelah, malas dan pusingnya skripsi untuk menuntaskan amanahnya. Semua keterampilan itu sengaja Tuhan latih melalui ritual puasa. Oleh karena itu, sungguh merugi manusia yang tidak berpuasa, baik wajib maupun sunah. Lebih-lebih yang tidak menghayati esensinya.

0 komentar:

Posting Komentar