KAMDADA, 20 November
2017
Puasa
dalam bahasa arab disebut Shaum, artinya menahan. Dalam KBBI, puasa adalah menghindari makan, minum, dan sebaginya dengan
sengaja. Dalam islam, puasa merupakan ibadah maghdah yang telah memiliki ketentuan-ketentuan
yang diatur secara detail. Di luar Islam, masih banyak jenis puasa dengan
berbagai fungsi dan tujuannya masing-masing.
Ketika kecil, anak muslim mulai dilatih untuk puasa
ramadhan. Di mulai dengan turut menikmati hidangan buka dan merasakan nuansa
gembira ketika magrib berkumandang. Kemudian ikut santap saur dengan kondisi
kantuk yang masih mengelayut di mata. Dilanjutkan dengan puasa setengah hari,
tiga perempat hari hingga menjalankan puasa penuh dan terbiasa melakukan puasa.
Seiring berjalannya waktu, orientasi manusia dalam
menjalankan puasa pun beragam. Mulai dari ikut-ikutan, demi hadiah dari orang
tua, kompetisi dengan teman, mendapatkan ganjaran dari tuhan, kesehatan hingga
bentuk terimakasih kepada Tuhan. Semua sah-sah saja, dan orientasi-orientasi
tersebut menujukan derajat manusia itu sendiri.
Satu hal yang menarik, puasa merupakan rukun Islam
ke-3. Sebuah posisi yang sangat strategis setelah syahadat dan shalat. Tentu
Tuhan punya maksud mengenai puasa yang lebih dahulu disebutkan di banding zakat
dan Haji.
Jika kita melihat kembali filosofi manusia, maka
kita akan mendapati struktur manusia yang terdiri dari akal, dan nafsu.
Keduanya menjadi hal yang sama-sama penting dan memiliki manfaat yang besar.
Tinggal bagaimana manusia menggunakannya secara adil. Nah, keadilan tersebut
tidak mungkin tercapai tanpa didasari dengan ilmu. Secara sederhana, hidup adalah
seni nge-gas nge-rem. Artinya, pengendara yang baik, yang selamat, yang
merasakan kenikmatan adalah yang tau kapan saatnya untuk nge-gas, dan kapan
saatnya untuk nge-rem. Pengetahuan dan keterampilan berkendara itulah yang
dimaksud dengan ilmu.
Dari penjelasan diatas, sudah sepantasnya puasa
memiliki kedudukan yang istimewa. Karena puasa merupakan ketrampilan mendasar
yang harus dimiliki manusia. Keterampilan untuk mengarungi kehidupan agar
selamat, nikmat dan bahagia dengan mengendalikan nafsu dengan memahami kapan
untuk menahan dan kapan untuk melampiaskan. Puasa melatih dengan mengajarkan
manusia untuk menahan dari hal-hal mendasar, seperti makan, minum, dan sex.
Dengan demikian manusia yang sudah khatam dengan
puasanya, maka akan selamat, bahagia, dan merasakan kehidupan yang nikmat.
Pejabat negara tidak tergiur korupsi, karena keinginanya untuk menggunakan uang
untuk kepentinganya berhasil ditahan. Pemuda yang merasakan keinginan untuk
bercumbu mesra dengan lawan jenis yang bukan mahram, akan menahannya dan tidak
melakukan hal-hal yang kenikmatannya sesaat. Saudagar yang ingin menimbun
harta, menahan keinginannya demi berbagi rizki dengan kaum mustadz’afin. Suami
yang bosan dengan istri pertama, akan bersabar dan menahan diri untuk selingkuh
atau menikah lagi. Seorang pejuang akan berusaha bertahan agar tidak menyerah. Mahasiswa
semester akhir, akan menahan rasa lelah, malas dan pusingnya skripsi untuk
menuntaskan amanahnya. Semua keterampilan itu sengaja Tuhan latih melalui
ritual puasa. Oleh karena itu, sungguh merugi manusia yang tidak berpuasa, baik
wajib maupun sunah. Lebih-lebih yang tidak menghayati esensinya.
0 komentar:
Posting Komentar