Selasa, 30 Januari 2018

Perjalanan Iman



KAMADA 20 November 2017



Iman adalah perjalanan tanpa ujung. Tidak akan menemui garis finis, kecuali kita menginggal dunia. Ibarat meraba wajah Tuhan, apa yang kita terka saat ini akan terus berubah seiring asam garam kehidupan, seiring informasi-informasi yang masuk dalam otak kita. Semua terus bergulir hingga kita kembali menemukan kesimpulan mengenai bentuk wajah Tuhan, yang  pada kesempatan selanjutnya kesimpulan tersebut terbantah dan kita menggantinya dengan kesimpulan baru.

Imam Ghazali misalnya, ulama yang dijuluki Hujjatul Islam karena keilmuan yang tinggi, di akhir hidupnya memilih jalan beragama yang sufistik. Padahal beliau pernah begitu asyik bermanuver di panggung dialektika dengan Ibnu Rusy, hingga membantah pemikiran Ibnu Rusy dengan kitab berjudul  Takafut Al Falasifah.

Contoh lain adalah Ulil Abdar Abdalla. Pemikirannya sering di kecam oleh banyak kalangan karena dianggap menyimpang dan keluar dari arus utama. Jaringan Islam Liberal beliau gunakan sebagai rumah tempat berhimpun dengan rekan-rekannya yag sejalan, dengan percaya diri menyuarakan Islam dengan nada yang mereka anggap lebih progresif, tidak tekstual, tidak dangkal dan berani mendobrak batas-batas yang selama ini dianggap sudah final. Namun, belakangan menantu Gus Mus ini berhenti menyuarakan tafsir-tafsir kontrofersial. Justru Menggelar pengajian dengan membedah pemikiran Imam Ghazali yang berjudul Ihya Ulumuddin. Kitab yang ditulis di akhir masa-masa petualangan intelektual Al Ghazali.
 Berbeda dengan Imam Ghazali, Gus Ulil sempat memberikan klarifikasi mengenai perubahan haluannya melalui status facebook. Bahwa pejalanan iman yang beliau alami mengalami tiga tahap. Sederhananya yaitu, tektual, kontektual progresif dan kontekstual berbasis teks. Saat ini gus Ulil melanjutkan menggelar pengajian-pengajiannya dengan membedah kitab-kitab. Konon, gus Ulil kini menghatamkan AL Quran sebanyak 7 kali dalam sebulan.
Sejatinya, apa yang Imam Ghazali dan Ulil Abdar Abdalla alami juga dialami oleh kita. Hanya saja, pergumulan kita tidak terlalu mendalam dan meluas. Bahkan cenderung takut untuk terus mengkritisi pengetahuan dan keyakinan yang mengendap dalam diri kita. Sehingga iman yang kita rasakanpun tidak sebijak Imam Ghazali dan Iman Gus Ulil. Konsep-konsep yang kita yakini pun tidak banyak berubah.

Dus, dari fenomena tersebut dapat kita pahami bahwa perbedaan merupakan hal yang niscaya dalam kehidupan. Harus kita akui, kita terima dan sikapi dengan adil. Sungguh berbahaya ketika kita mudah melabeli dan merendahkan kelompok lain hanya karena berbeda pandangan. Lebih-lebih hinga kita merasa lebih suci. Boleh jadi yang diolok-olok lebih baik dari pelaku. Lagipula Rasul hanya bertugas mengingatkan, bukan memberi hidayah. Bukankah An – Nahl 125 sudah jelas?

0 komentar:

Posting Komentar