KAMADA 20 November 2017
Iman
adalah perjalanan tanpa ujung. Tidak akan menemui garis finis, kecuali kita
menginggal dunia. Ibarat meraba wajah Tuhan, apa yang kita terka saat ini akan
terus berubah seiring asam garam kehidupan, seiring informasi-informasi yang
masuk dalam otak kita. Semua terus bergulir hingga kita kembali menemukan
kesimpulan mengenai bentuk wajah Tuhan, yang
pada kesempatan selanjutnya kesimpulan tersebut terbantah dan kita menggantinya
dengan kesimpulan baru.
Imam
Ghazali misalnya, ulama yang dijuluki Hujjatul Islam karena keilmuan
yang tinggi, di akhir hidupnya memilih jalan beragama yang sufistik. Padahal
beliau pernah begitu asyik bermanuver di panggung dialektika dengan Ibnu Rusy,
hingga membantah pemikiran Ibnu Rusy dengan kitab berjudul Takafut Al Falasifah.
Contoh
lain adalah Ulil Abdar Abdalla. Pemikirannya sering di kecam oleh banyak
kalangan karena dianggap menyimpang dan keluar dari arus utama. Jaringan Islam
Liberal beliau gunakan sebagai rumah tempat berhimpun dengan rekan-rekannya yag
sejalan, dengan percaya diri menyuarakan Islam dengan nada yang mereka anggap
lebih progresif, tidak tekstual, tidak dangkal dan berani mendobrak batas-batas
yang selama ini dianggap sudah final. Namun, belakangan menantu Gus Mus ini
berhenti menyuarakan tafsir-tafsir kontrofersial. Justru Menggelar pengajian dengan
membedah pemikiran Imam Ghazali yang berjudul Ihya Ulumuddin. Kitab yang
ditulis di akhir masa-masa petualangan intelektual Al Ghazali.
Berbeda dengan Imam Ghazali, Gus Ulil sempat
memberikan klarifikasi mengenai perubahan haluannya melalui status facebook.
Bahwa pejalanan iman yang beliau alami mengalami tiga tahap. Sederhananya
yaitu, tektual, kontektual progresif dan kontekstual berbasis teks. Saat ini
gus Ulil melanjutkan menggelar pengajian-pengajiannya dengan membedah
kitab-kitab. Konon, gus Ulil kini menghatamkan AL Quran sebanyak 7 kali dalam
sebulan.
Sejatinya,
apa yang Imam Ghazali dan Ulil Abdar Abdalla alami juga dialami oleh kita. Hanya
saja, pergumulan kita tidak terlalu mendalam dan meluas. Bahkan cenderung takut
untuk terus mengkritisi pengetahuan dan keyakinan yang mengendap dalam diri
kita. Sehingga iman yang kita rasakanpun tidak sebijak Imam Ghazali dan Iman
Gus Ulil. Konsep-konsep yang kita yakini pun tidak banyak berubah.
Dus,
dari fenomena tersebut dapat kita pahami bahwa perbedaan merupakan hal yang
niscaya dalam kehidupan. Harus kita akui, kita terima dan sikapi dengan adil.
Sungguh berbahaya ketika kita mudah melabeli dan merendahkan kelompok lain
hanya karena berbeda pandangan. Lebih-lebih hinga kita merasa lebih suci. Boleh
jadi yang diolok-olok lebih baik dari pelaku. Lagipula Rasul hanya bertugas
mengingatkan, bukan memberi hidayah. Bukankah An – Nahl 125 sudah jelas?

0 komentar:
Posting Komentar