Selasa, 30 Januari 2018

Hijrah Tenanan




                                                                                                 Jogja, 22 November 2017

Hijrah menjadi kata yang cukup populer tahun ini. Sebuah kata yang menggambarkan perpindahan atau perubahan menuju kearah yang lebih baik. Sayangnya kebanyakan identik dengan perubahan yang artifisial. Acapkali ditandai dengan hijab yang panjang, celana yang congklang, mulai memelihara jenggot, memakai niqab atau cadar, bahkan menikah muda.

Tentu jika berhenti di zona tersebut, makna hijrah menjadi sangat dangkal. Jauh dari konteks hijrahnya Rasul dan pengikutnya dari Mekah menuju Madinah. Saat itu hijrah benar-benar untuk menegakkan agama Allah. Umat Islam yang hampir sempurna tertindas oleh kaum kafir Quraisy, memilih berpindah untuk membangun kekuatan psikologi, ekonomi, politik, dan budaya.

Faktanya, umat Islam Indonesia belumlah merdeka secara ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, dan politik. Artinya, Indonesia pun masih sangat relevan untuk menghayati hijrah yang terjadi pada Juni tahun 622 M tersebut. Menjadi sesuatu yang kerdil jika setelah berhijab lebar namun tidak bergerak mendidik anak-anak miskin, sudah bercelana congklang namun masih enggan berusaha lepas dari cengkraman kapitalis, sudah memakai cadar namun tidak gemar membaca, dan seterusnya.

Syahdan, populernya kata hijrah saat ini menjadi suatu yang wajib dilanjutkan dengan kontekstualisasi muhajirin menuju yastrib. Sehingga utuh menjadi hijrah tenanan. Mudah-mudahan dengan begitu agama Allah segera tegak. Aamiin

0 komentar:

Posting Komentar