Selasa, 30 Januari 2018

Perempuan-perempuan Sarkem



 GTP, 5 Desember 2017

 


Malam itu adalah malam minggu, awalnya saya rencanakan untuk mengisi dengan melanjutkan skripsi. Namun salah satu teman mengajak pegi ke Sarkem, akronim dari pasar kembang. Saya pun tergoda untuk mengunjungi sarke, pasalnya rencana pekan lalu bersama-sama dolan ke arkem urung karena suatu hal.

Nama pasar kembang bagi orang yang di luar Jogja adalah suatu yang biasa, bahkan sesuai dengan namanya, banyak pilihan jenis bunga yang dapat dibeli. Berbeda dengan di Jogja, Sarkem adalah lokalisasi pekerja seks komersial yang dipantau oleh pemerintah kota. Tidak banyak pilihan bunga-bunga disana, yang ada adalah perempuan-perempuan yang menjajakan jasa untuk menyalurkan birahi para lelaki diluar hubungan pernikahan.

Turun dari motor Vega-R hitam, juru parkir memberikan karcis tidak resmi dan meminta uang sebesar 5 ribu rupiah. Kemudian mulai melangkah menuju gang yang lebarnya tidak lebih dari 2 meter tepat di sebelah barat hotel Unisi. Tidak jauh dari mulut gang, ada penjaga yang meminta restribusi masuk area sarkem. Sama dengan parkir, biaya restribusipun 5 ribu rupiah. hanya saja biaya restribusi dikenakan perkepala.

Perempuan-perempuan mulai terlihat, duduk berjejer-jejer di tepi gang. Ada yang duduk di kursi plastik, ada yang di teras rumah yang sengaja di buat agar dapat digunakan untuk duduk-duduk. Tidak ada yang berpakaian tertutup, semuanya mengenakan pakaian mini yang memperlihatkan sebagain besar anggota tubuh. Di antara jari tangan , menyempil rokok yang dihisap secara berkala oleh sebagain besar perempuan-perempuan itu. sementara laki-laki berjubel hilir mudik melihat-lihat dan memilih diantara perempuan-perempuan itu.

Saya taksir, usia perempuan-perempuan itu mulai 18 hingga 50 tahun. Ada yang tenang, dan menunggu, ada pula yang aktif menjawil dan mengajak dengan suara lirih pada calon-calon pelanggan. Ada pula yang menggunakan jasa laki-laki yang bertugas menawarkan, menggiring agar calon pengguna jasa esek-esek itu mampir dan menyewa perempuan-perempuan yang telah siap melayani.

Ada yang mewawarkan 150 ribu, 200 ribu, dan sebagainya. Saya tidak sempat bertanya langsung dengan perempuan-perempuan itu, saya hanya bertanya kepada teman yang sudah beberapa kali datang ke sarkem. Teman saya bercerita, bahwa di sarkem memang kisaran harganya antara 150 hingga 300 ribu. Hitungannya bukan per Jam, namun untuk satu kali ejakulasi. PSK sakem pun biasanya neggan untuk disewa dengan sistem dibawa pergi.

Setelah lebih dari 15 menit menelusuri gang demi gang, melihat puluhan perempuan-perempuan yang berdandan dan berparfum menyengat, saya menangkap wajah-wajah yang menanggung beban hidup yang berat. Tatapan mata perempuan-perempuan itu nampak tersenyum dalam keterpaksaan. Mungkin lirik lagu kupu-kupu malam benar mewakili isi hati mereka. Apa yang terjadi-terjadilah, yang dia tau tuhan penyayang umatnya. Apa yang terjadi terjadilah, yang dia tau hanyalah menyambung nyawa.

Saya pun keluar gang dari mulut gang yang sama dengan ketika masuk area sarkem. melanjutkan perjalanan ke tempat prostitusi selanjutnya yang berjarak sekitar 300 meter dari sarkem. Tempat tersebut berada di sepanjang rel kereta api, sebelah barat stasiun Tugu. Berbeda dengan sarkem, protitusi ini tidaklah legal. Biaya retribusinya setengah dari harga sarkem.

Ketika melangkah ke area rel yang gelap, ternyata sangat ramai oleh laki-laki pencari kenikmatan seks dan perempuan-perempuan PSK. Di pinggir rel, ada warung-warung juga bedeng-bedeng yang merupakan tempat penyaluran birahi. Sungguh pemandangan yang memilukan, PSK di area tersebut terlihat sudah ibu-ibu, bahkan nenek-nenek. Bentuk tubuhnya, bagi saya sudah sangat idak menarik. Wajar saja, harga sewa PSK di area ini hanya sekitar 40 ribu hingga 150 ribu, bahkan ada juga PSK-PSK Waria yang ternyata ada juga laki-laki yang menggunakan jasa PSK Waria.

Saya mencoba bertanya harga pada salah satu PSK berkaos merah ketat, PSK tersebut saya perkiraan berusia diatas 28 tahun. Ternyata PSK tersebut menawarkan harga 100 ribu, saya menolak. Perempuan itu kembali menawarkan dengan harga 90 ribu, saya kembali menolak. Kemuadian perempuan itu memberikan kesempatan kepada saya untuk menawar. Saya pun berjalan berlagak mencari perempuan lain.

Begitulah salah satu fakta sebagian sudut kota Jogja. Dalam teori marxis, mereka adalah kelas pekerja yang teralineasi. Terpaksa melakukan kegiatan produksi yang bukan keinginan hatinya, bekerja untuk orang lain, sehingga pekerjaannya itu merupakan sesuatu yang di luar dirinya. Pekerja menjadi asing dengan pekerjaannya, dia pun menjadi asing dengan dirinya sendiri.

Ketika diperjalanan pulang, sekitar pukul 01.00 pagi, teman saya bertanya, bagaimana jika tadi mendapati ada tetangga di kampung yang ternyata bekerja sebagai PSK. Saya terdiam dan kemudian menjawab. Saya akan mencari informasi, menghubungi saudagar di kampung untuk mempekerjakan dirinya. Kemuadian teman saya kembali bertanya, jika mendapati laki-laki yang sedang menyewa PSK yang ternyata itu tetanggamu bagaimana. Saya jawab, itu pasti ada. Saya juga pernah mendengar curhat teman saya sejak kecil yang ternyata gemar menyewa PSK selama berada di tanah rantau.

Dalam fenomena ini, asumsi karl marxs bisa ada benarnya mengenai Economic Determinism, yang menganggap bahwa sistem ekonomi memengaruhi sistem-sistem yang lainnya. Dalam Economic Determinism, terdapat 2 buah struktur, yakni Basic Structure dan Super Structure. Basic Structure adalah ekonomi, sedangkan Super Structure adalah agama, politik, budaya, bahasa, dan lain-lain. Jadi, Basic Structure-lah yang menentukan Super Structure.

Saya hanya berpikir, memang harus menjadi saudagar yang memberdayakan. Bukan untuk menciptkan masyarakat tanpa kelas ala karl marxs, tapi siapa tau bisa meniru masyarakat madani ala nabi. Mulai dari kampung kecil bernama, Dukuh Kweni, Adisana, Bumiayu

0 komentar:

Posting Komentar