Selasa, 30 Januari 2018

Bid’ah Kontemporer dalam Ikatan



10 Desember 2015

Kullu bid'atin dholalatun wakullu dholalatin finnar, penggalan hadits tersebut sering terdengar ketika berbicara masalah bid’ah, bahkan tidak membahas bid’ah pun tetap sering di dengar. Karena sering juga digunakan pada muqadimah saat kultum, pidato, khutbah dan sebagainya.
Bid’ah sendiri menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid III di jelaskan bahwa bid’ah berasal dari akar kata arab bada’a yang menunjukan arti penciptaan suatu karya kreatif dan orisinil tanpa adanya contoh sebelumnya. Sedangkan KH. Djarnawi Hadikusuma mendefinisikan bid’ah sebagai sesuatu yang diciptakan baru tanpa ada contoh yang mendahuluinya.
Dari pengertian diatas jika didialogkan dengan realitas kondisi Ikatan, maka dapat pahami bahwa kader IMM telah melakukan banyak bid’ah, atau sebutan masyhurnya adalah ahli bid’ah. Menilik landasan-landasan IMM maka ada banyak “dalil” yang menjelasakan esensi IMM itu sendiri. Salah satunya adalah Deklarasi Kota Barat. Yang mana Musyawarah Nasional (Muktamar) perdana di Solo pada 1965 berperan sebagai bidan lahirnya 6 penegasan IMM ini. Landasan ini jelas keshahihanya karena merupakan keputusan musyawarah tertinggi dalam Ikatan. Isi dekalarasi tersebut adalah:
  1. IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
  2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
  3. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (Stabiliosator dan Dinamisator)
  4. Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM
  5. IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku
  6. Amal IMM, dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.
Landasan shahih lainya adalah produk kepemimpinan DPP IMM hasil Muktamar II, yaitu tersusunya Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah beserta Penjelasanya. Identitas tersebut yaitu:
Bismillahirrahmaanirrahiim
Untuk terus mengembangkan hidup dan kehidupan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) serta amal geraknya, maka perlu ditetapkan Identitas IMM yaitu sebagai berikut:
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
  • Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan gerakan da’wah di tengah-tengah masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa
  • Oleh karena itu, setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk melaksanakan ketaqwaan dan pengabdianya kepada Allah SWT.
Untuk penjelasan dari Identitas IMM diatas, dapat di baca pada buku melacak sejarah kelahiran dan perkembangan IMM.
Selain dalil-dalil diatas, masih banyak lagi dalil yang digunakan sebagai landasan gerak IMM, antara lain, Dekalarsi Garut (Garut, 1967), Deklarasi Baiturrahman (Semarang, 1975), Deklarasi Kota Malang manifesto Kader Progresif (Malang, 2002), manifesto politik IMM (Jakarta 2004) dan yang terbaru deklarasi setengah abad (Solo, 2014) dan berbagai risalah teks ideologi Muhammadiyah yang otomatis menjadi ruh IMM sebagai anak kandungnya. Namun, jika menengok dengan kondisi kekinian IMM, tidak sedikit praktek yang di lakukan kader IMM keluar dari landasan-landasan diatas, dalam bahasa lain bid’ah. Hal ini jika dibiarkan tanpa ada upaya tajdid, maka akan berpotensi menjadi penyimpangan yang nyata. Bid’ah yang kini bergelayutan di IMM antara lain:
1.IMM sebagai Organisasi Pariwisata
Dalam rangka menyambut mahasiswa baru yang mendaftar IMM, maka program awalnya adalah Mataf (Malam Taaruf), kemasanya mirip seperti malam keakraban yang dilakukan organisasi intra kampus, hanya ada beberapa konten materi yang berbeda dan suasana yang di bangun di Ikatan lebih egaliter dan Islami. Biasanya calon anggota-anggota baru yang mendaftar di ajak ke suatu tempat wisata, tujuanya adalah membangun kedekatan baik antar calon anggota, maupun dengan pimpinan komisariat dan alumni. Sayangnya, alih-alih sebagai pendekatan kultural, kaderIMM melakukan kegiatan semacam ini tidak hanya di awal masa-masa perekrutan periode awal, namun juga di tengah dan akhir periode yang sifatnya cenderung hedonis. Bentuknyapun beragam mulai dari taddabur alam baik di gunung, laut maupun udara hingga studi banding yang hampir selalu di barengi mampir ke tampat wisata. Tidak hanya itu, kegiatan diluar program kerja komisariatpun tidak jauh-jauh dari pariwisata. Yang tersoroti adalah kegiatan memburu kuliner yang mana Jogja selain kota pelajar notabene juga sebagai surganya pecinta kuliner. Konsekwensi logisnya, kader yang terbentuk adalah kader pragmatis, dan ketika ditanya kenapa betah ber-IMM, jawabanya karena IMM banyak jalan-jalan dan makan-makan. Sebuah keniscayaan ketika IMM di jadikan organisasi pariwisata, bukan wadah yang menempa intelektual kader, berjuang dan berkarya.

2. IMM sebagai Event Organizer
Menjadi Kebanggan ketika kader Ikatan mampu menyelenggarakan kegiatan besar, megah dan meriah, baik itu seminar, tabligh akbar, talkshow, bakti sosial maupun kegiatan perkaderan formal dan pendukung. Yang menjadi keprihatinan adalah pertama, ketika kader tidak tau esensi acara yang di selenggarakan. Visi, tujuan dan target dari event yang di selenggarakan tidak di godog secara matang. Konsep sebatas copy paste dari pendahulunya, dalam arti lain manjalankan program kerja tradisi turun temurun. Tidak hanya even besar, even-even kecil seperti kajian rutinpun hanya menjadikan kader ikatan sebagai penyedia tempat, konsumsi dan pemateri. Sangat jarang kader-kader di berikan wadah untuk beraktualisasi, lebih-lebih di orbitkan. Kedua, Satu periode kepengurusan IMM, hanya disibukan bagaimana menyelesaikan program-proram kerja yang telah di canangkan di musyawarah kerja, tanpa mereflesikan perkembangan kader dan kebutuhan-kebutuhannya. Padahal dalam anggaran dasar IMM jelas tertulis pada bab tujuan dan usaha yang ditekankan pada organisasi ini adalah pembinaan kader.

3. IMM Sebagai Organisasi Intra Kampus
Perbedaan yang mendasar IMM sebagai organisasi ekstra kampus dengan organisasi intra kampus adalah perihal ideologi. IMM sebagai gerakan, memiliki nilai-nilai yang di junjung sebagai dasar perjuangan. Lain halnya dengan Organisasi Intra kampus, keberadaanya tidak lebih sebagai pelaksana tugas kampus.

Konsekuensi ideologi tidak sederhana. Persaudaraan yang berlanjut hingga menua, mengikat sejalan dengan falsafah hidup yang di ajarkan ikatan. Tentu hal ini berbeda dengan organisasi internal yang setiap periode memiliki arah perjuangan yang berbeda, tergantung siapa yang berkuasa. Organisasi internal menjadi ideologis ketika di tunggangi oleh akivis-aktivis gerakan yang ideologis. Hal ini lumrah, mengingat organisasi internallah yang mendapat fasilitas dari kampus, baik struktural maupun kultural. Maka menjadi pemandangan yang wajar ketika kursi-kursi organisasi internal di perebutkan aktivis organisasi eksternal. Sayangnya, kini ikatan semakin serupa dengan aktivis organisasi intra kampus.

Lebih lanjut lagi perlu di tegaskan bahwa bid’ah itu tidak hanya meliputi praktek yang berupa perbuatan, tetapi juga sikap tidak berbuat yang disebut bid’ah tarkiyah, yaitu meninggalkan  sesuatu yang di perintahkan. Bid’ah jenis ini juga kini semakin membudaya di Ikatan. Mulai dari hilangnya identitas substansial IMM sebagai gerakan Intelektual. Di tandai dengan merebaknya wabah penyakit yang semakin kronis, seperti rabun hingga buta membaca, lumpuh menulis dan  bisu serta tuli akan diskusi. Dampaknya tidak sederhana dekadensi yang berujung pada kesenjangan yang cukup menganga jika bersedia jujur melakukan komparasi antara profil kader ikatan idealistis dan realita yang belum sepenuhnya menggembirakan.
Sebagaimana KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah, Tajdid menjadi strategi dalam menawarkan hidup yang lebih cerah. Tajdid ini tentu masih sangat relevan utnuk di implementasikan dalm tubuh ikatan, baik  konteks purifikasi maupun dinamisasi. Wallahu a'lam bishowab.

0 komentar:

Posting Komentar