10 Desember 2015
Kullu bid'atin dholalatun wakullu dholalatin finnar, penggalan hadits tersebut sering
terdengar ketika berbicara masalah bid’ah, bahkan tidak membahas bid’ah pun
tetap sering di dengar. Karena sering juga digunakan pada muqadimah saat
kultum, pidato, khutbah dan sebagainya.
Bid’ah sendiri menurut Majlis Tarjih Muhammadiyah
dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid III di jelaskan bahwa bid’ah berasal dari
akar kata arab bada’a yang menunjukan arti penciptaan suatu karya kreatif dan
orisinil tanpa adanya contoh sebelumnya. Sedangkan KH. Djarnawi Hadikusuma
mendefinisikan bid’ah sebagai sesuatu yang diciptakan baru tanpa ada contoh
yang mendahuluinya.
Dari pengertian diatas jika didialogkan dengan
realitas kondisi Ikatan, maka dapat pahami bahwa kader IMM telah melakukan
banyak bid’ah, atau sebutan masyhurnya adalah ahli bid’ah. Menilik
landasan-landasan IMM maka ada banyak “dalil” yang menjelasakan esensi IMM itu
sendiri. Salah satunya adalah Deklarasi Kota Barat. Yang mana Musyawarah
Nasional (Muktamar) perdana di Solo pada 1965 berperan sebagai bidan lahirnya 6
penegasan IMM ini. Landasan ini jelas keshahihanya karena merupakan keputusan
musyawarah tertinggi dalam Ikatan. Isi dekalarasi tersebut adalah:
- IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
- Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
- Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (Stabiliosator dan Dinamisator)
- Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM
- IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku
- Amal IMM, dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa.
Landasan shahih lainya adalah produk kepemimpinan DPP
IMM hasil Muktamar II, yaitu tersusunya Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
beserta Penjelasanya. Identitas tersebut yaitu:
Bismillahirrahmaanirrahiim
Untuk terus mengembangkan hidup dan kehidupan Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) serta amal geraknya, maka perlu ditetapkan
Identitas IMM yaitu sebagai berikut:
- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
- Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan gerakan da’wah di tengah-tengah masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa
- Oleh karena itu, setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk melaksanakan ketaqwaan dan pengabdianya kepada Allah SWT.
Untuk penjelasan dari Identitas IMM diatas, dapat di
baca pada buku melacak sejarah kelahiran dan perkembangan IMM.
Selain dalil-dalil diatas, masih banyak lagi dalil
yang digunakan sebagai landasan gerak IMM, antara lain, Dekalarsi Garut (Garut,
1967), Deklarasi Baiturrahman (Semarang, 1975), Deklarasi Kota Malang manifesto
Kader Progresif (Malang, 2002), manifesto politik IMM (Jakarta 2004) dan yang
terbaru deklarasi setengah abad (Solo, 2014) dan berbagai risalah teks ideologi
Muhammadiyah yang otomatis menjadi ruh IMM sebagai anak kandungnya. Namun, jika
menengok dengan kondisi kekinian IMM, tidak sedikit praktek yang di lakukan
kader IMM keluar dari landasan-landasan diatas, dalam bahasa lain bid’ah. Hal
ini jika dibiarkan tanpa ada upaya tajdid, maka akan berpotensi menjadi
penyimpangan yang nyata. Bid’ah yang kini bergelayutan di IMM antara lain:
1.IMM sebagai Organisasi Pariwisata
Dalam rangka menyambut mahasiswa baru yang mendaftar
IMM, maka program awalnya adalah Mataf (Malam Taaruf), kemasanya mirip seperti
malam keakraban yang dilakukan organisasi intra kampus, hanya ada beberapa
konten materi yang berbeda dan suasana yang di bangun di Ikatan lebih egaliter
dan Islami. Biasanya calon anggota-anggota baru yang mendaftar di ajak ke suatu
tempat wisata, tujuanya adalah membangun kedekatan baik antar calon anggota,
maupun dengan pimpinan komisariat dan alumni. Sayangnya, alih-alih sebagai
pendekatan kultural, kaderIMM melakukan kegiatan semacam ini tidak hanya di
awal masa-masa perekrutan periode awal, namun juga di tengah dan akhir periode
yang sifatnya cenderung hedonis. Bentuknyapun beragam mulai dari taddabur alam
baik di gunung, laut maupun udara hingga studi banding yang hampir selalu di
barengi mampir ke tampat wisata. Tidak hanya itu, kegiatan diluar program kerja
komisariatpun tidak jauh-jauh dari pariwisata. Yang tersoroti adalah kegiatan
memburu kuliner yang mana Jogja selain kota pelajar notabene juga sebagai
surganya pecinta kuliner. Konsekwensi logisnya, kader yang terbentuk adalah
kader pragmatis, dan ketika ditanya kenapa betah ber-IMM, jawabanya karena IMM
banyak jalan-jalan dan makan-makan. Sebuah keniscayaan ketika IMM di jadikan
organisasi pariwisata, bukan wadah yang menempa intelektual kader, berjuang dan
berkarya.
2. IMM sebagai Event Organizer
Menjadi Kebanggan ketika kader Ikatan mampu
menyelenggarakan kegiatan besar, megah dan meriah, baik itu seminar, tabligh
akbar, talkshow, bakti sosial maupun kegiatan perkaderan formal dan pendukung.
Yang menjadi keprihatinan adalah pertama, ketika kader tidak tau esensi
acara yang di selenggarakan. Visi, tujuan dan target dari event yang di
selenggarakan tidak di godog secara matang. Konsep sebatas copy paste
dari pendahulunya, dalam arti lain manjalankan program kerja tradisi turun
temurun. Tidak hanya even besar, even-even kecil seperti kajian rutinpun hanya
menjadikan kader ikatan sebagai penyedia tempat, konsumsi dan pemateri. Sangat
jarang kader-kader di berikan wadah untuk beraktualisasi, lebih-lebih di
orbitkan. Kedua, Satu periode kepengurusan IMM, hanya disibukan
bagaimana menyelesaikan program-proram kerja yang telah di canangkan di
musyawarah kerja, tanpa mereflesikan perkembangan kader dan
kebutuhan-kebutuhannya. Padahal dalam anggaran dasar IMM jelas tertulis pada
bab tujuan dan usaha yang ditekankan pada organisasi ini adalah pembinaan
kader.
3. IMM Sebagai Organisasi Intra Kampus
Perbedaan yang mendasar IMM sebagai organisasi ekstra
kampus dengan organisasi intra kampus adalah perihal ideologi. IMM sebagai
gerakan, memiliki nilai-nilai yang di junjung sebagai dasar perjuangan. Lain
halnya dengan Organisasi Intra kampus, keberadaanya tidak lebih sebagai
pelaksana tugas kampus.
Konsekuensi ideologi tidak sederhana. Persaudaraan
yang berlanjut hingga menua, mengikat sejalan dengan falsafah hidup yang di
ajarkan ikatan. Tentu hal ini berbeda dengan organisasi internal yang setiap
periode memiliki arah perjuangan yang berbeda, tergantung siapa yang berkuasa.
Organisasi internal menjadi ideologis ketika di tunggangi oleh akivis-aktivis gerakan
yang ideologis. Hal ini lumrah, mengingat organisasi internallah yang mendapat
fasilitas dari kampus, baik struktural maupun kultural. Maka menjadi
pemandangan yang wajar ketika kursi-kursi organisasi internal di perebutkan
aktivis organisasi eksternal. Sayangnya, kini ikatan semakin serupa dengan
aktivis organisasi intra kampus.
Lebih lanjut lagi perlu di tegaskan bahwa bid’ah itu
tidak hanya meliputi praktek yang berupa perbuatan, tetapi juga sikap tidak
berbuat yang disebut bid’ah tarkiyah, yaitu meninggalkan sesuatu
yang di perintahkan. Bid’ah jenis ini juga kini semakin membudaya di Ikatan.
Mulai dari hilangnya identitas substansial IMM sebagai gerakan Intelektual. Di
tandai dengan merebaknya wabah penyakit yang semakin kronis, seperti rabun hingga
buta membaca, lumpuh menulis dan bisu serta tuli akan diskusi. Dampaknya
tidak sederhana dekadensi yang berujung pada kesenjangan yang cukup menganga
jika bersedia jujur melakukan komparasi antara profil kader ikatan idealistis
dan realita yang belum sepenuhnya menggembirakan.
Sebagaimana KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan dan
mengembangkan Muhammadiyah, Tajdid menjadi strategi dalam menawarkan hidup yang
lebih cerah. Tajdid ini tentu masih sangat relevan utnuk di implementasikan
dalm tubuh ikatan, baik konteks purifikasi maupun dinamisasi. Wallahu
a'lam bishowab.
0 komentar:
Posting Komentar