Jogja, 10 Agustus 2016
Nikmatnya hangat
senja tanah kelahiran. Di ruang tamu, saya mendapati wanita baya begitu anteng
di ujung sofa. Tapih menjadi busana yang akrab bagi perempuan yang 24 tahun
silam telah berhasil melahirkan anak terahirnya yang kesembilan. Wajahnya
teduh, tergambar keihlasan yang lekat.
“Bu, sore ini yang
ngurus ayam biar ku saja ya bu” ujar saya pada Ibu. Berharap Ibu bisa tetap
melanjutkan membaca. Biasanya, rutinitas Ibu yang dilaui di kala senja adalah
memastikan bahwa ayam-ayam peliharaan yang sejak pagi dikeluarkan dari kandang
telah pulang sebelum adzan maghrib berkumandang.
“bener?” tanya Ibu yang
belum yakin.
“Iya bu, cuma nutup
kandang tok kan, gampang.” Jawabku dengan nada yakin ditambah
menyunggingkan senyum.
Melihat langit
meredup, saya melangkahkan kaki menuju kandang ayam. Ternyata baru sebagian
ayam yang pulang. Akhirnya ku putuskan untuk menunda menutup kandang dan
kembali masuk rumah.
Kembali saya
menemani Ibu di ruang tamu. Tersenyum menatapnya, dan Ibu pun tersadar sedang
dibidik oleh kedua mata saya. Ibu membalas tatapan saya sejenak, dan kembali
melanjutkan aktifitasnya kala itu, membaca. Ya, membaca adalah salah satu
kegemaran ibu yang menurut saya begitu elegan . Di tengah kesibukannya yang
menggunung, Ibu masih menyempatkan untuk membaca. Buku-buku favoritnya adalah
yang berkaitan dengan keislaman, terutama ibadah. Wajar saja, diantara suami
dan semua anak-anaknya, Ibu lah yang memiliki hafalan do’a paling
banyak. Kegemaran Ibu membaca Buku pun tak lantas menghilangkan
kewajibannya untuk membaca Alquran. Seusai magrib, begitu khidmat Ibu menikmati
rangkaian ayat demi ayat yang dibaca dari mushaf hijau besar kesayangannya.
Saya mendekat,
duduk di samping kanan Ibu. Saya dekap tubuh mungilnya. Ibu hanya menoleh
sejenak ke arah saya dengan sedikit keheranan, kemudian kembali melanjutkan
bacaanya. Memang memeluk Ibu adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan, pun
menciumnya.
“Gimana bu bukunya?”
tanya saya sambil menunjuk dengan lirikan bola mata ke arah buku
putih yang Ibu pegang. Judulnya Haji, buku yang belum selesai saya baca
dan tergeletak di meja begitu saja.
“Ini orangnya pinter
banget ya,” Jawab Ibu.
Saya mengernyitkan
dahi, terperanjat mendengar jawaban Ibu. Bertanya-tanya, ko bisa secepat itu
Ibu mampu menyimpulkan pemikiran penulis.
“Sudah baca sampai
mana Bu?” penasaran saya menimpali.
“Ini.” Ibu menjawab
dengan menunjukan banyaknya lembaran yang telah beliau baca. Sayapun tersenyum
dan mengangguk-angguk. Ternyata Ibu baru membaca pengantar dari penerjemah yang
menceritakan perihal pengarang Buku. Pada beberapa halawan awal tersebut,
penerjemah mengulas singkat kehidupan Dr. Ali Shariati, pengarang yang
berkebangsaan Iran tersebut.
Saya memang cukup
mengagumi Dr. Ali Shariati, dan mengoleksi beberapa buku yang beliau tulis.
Laki-laki yang lahir pada 23 November 1933 tersebut hingga saat ini masih
banyak menginspirasi banyak manusia hampir di semua belahan bumi. Arsitek dan
ideolog revolusi Iran, begitu sebagian julukan aktivis peraih doktor filsafat
dan sosiologi Universitas Sorbonne tersebut.
“Bu,. Itu yang
nulis orang Syiah lho...” Tambahku dengan nada sedikit meledek. Sontak Ibu,
langsung menunjukan ekspresi kaget.
“Apa iya?” cepat
Ibu menimpali.
“Iya,” jawabku
dengan tersenyum.
“Untuk apa beli
buku-buku Syiah yang sesat? Kan banyak buku-buku yang nda sesat,” papar ibu
dengan nada meyakinkan.
Saya tersenyum
tenang sejenak, dan kembali bertanya. “Dari mana ibu tau, kalau Syiah itu
sesat?.
“Lha itu, cari aja
di google. Syiah itu aneh-aneh, masa kepala sendiri dilukai sampe
berdarah-darah, masa boleh nikah kontrak, dan Ali jadi Nabi.” Saut ibu dengan
menggebu, hingga beberapa saat saya hanya terdiam.
“Sekarang saya mau
tanya Bu, Ibu aktif di ‘Aisyiyah kan?” pelan dan hati-hati ku bertanya dengan
selalu beriring senyum
“Iya,” jawab Ibu
singkat.
“Ibu pernah denger
nda bu, kalo Majlis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan bahwa Syiah
itu sesat?
Ibu terdiam,
terlihat ekspresi wajahnya mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Kata Ketua cabang
Muhammadiyah kemarin waktu pengajian, Syiah sudah jelas sesat.” Ibu masih yakin
dengan pemahamannya, dan ku masih tetap mencoba tersenyum hangat mendengar argumen-argumen
Ibu.
“hhmmm., begini
bu, sedikit yang pernah anak bungsumu ini dengar, PP Muhammadiyah tidak pernah
menyatakan bahwa Syiah itu sesat. Kalo sebagian tokoh Muhammadiyah menyatakan
sesat memang ada, tapi tidak semua. Gitu bu.. hehehe”
“Terus, itu
gimana, kan banyak buktinya Syiah yang nikah kontrak, benci sama Abu Bakar,
Umar, Utsman?”
“Syiah memang ada yang
sesat bu, tapi tidak semua Syiah itu sesat. Sama seperti Sunni bu, Sunni juga
ada yang sesat juga kan bu.” Ku berhenti sejenak, dan terlihat ibu tidak
keberatan dengan argumen-argumen yang sedikit saya ceritakan.
“Ibu mau denger
cerita nda bu?” Ibu menganggukan kepala, tanda bersedia mendengar cerita
yang saya tawarkan.
“Jadi begini bu,
tanggal 9 November 2004, raja Abdullah II bin Husein dari Yordania pernah
mengadakan hajatan yang menghasilkan The Amman Message, kalo bahasa
arabnya Risalah Amman. Risalah itu di tandatangani oleh lebih dari 500
ulama-ulama dari 84 negara. Kalo dari Indonesia yang tanda tangan ada Maftuh
Basyuni selaku Mentri Agama, Din Syamsuddin perwakilan Muhammadiyah, dan Hasyim
Muzadi perwakilan NU. Intinya, para ulama-ulama yang berkumpul itu
bersepakat untuk menyerukan perdamaian, persatuan dan toleransi. Termasuk
mengakui Syiah sebagai salah satu madzhab bagian dari Islam.” Pelan tapi pasti
ku menceritakan.
“Ibu pernah denger
berita ini nda Bu?” ku kembali bertanya dan Ibu hanya menjawab dengan gelengan
kepala. “Ya begitulah bu, memang ada yang nda seneng kalo umat Islam bersatu.
Jadi berita seperti ini dibungkam, ditenggelamkan. Yang banyak dimunculkan ya
Syiah sesat, Syiah bukan Islam, Syiah Yahudi, Syiah kawin kontrak, Syiah tidak
mengakui nabi Muhammad. Pokoknya yang buruk-buruk, yang bisa bikin umat Islam
itu terpecah belah, saling membenci, dan membunuh” dengan semangat ku
bercerita.
Astaghfirullah,
kepala Ibu sudah tersandar di sofa. ternyata Ibu sampai tertidur mendengar ku
terus ngoceh. Wajah Ibu terlihat sudah keriput, namun tetap nampak
bersih dan ayu. Pasti Ibu lelah beraktifitas dari sebelum subuh. Tak tega
melihat Ibu duduk tertidur di sofa, pelan-pelan ku bopong tubuhnya untuk
dipindahkan ke kasur. Baru sedikit tubuh Ibu terangkat, mata Ibu justru terbuka
dan merasa tidak nyaman dibopong untuk dipindahkan. Meski demikian, saya terus
melanjutkan untuk membopong Ibu. Ibu terkekeh-kekeh dengan sedikit memberontak.
Akhirnya saya berhasil
merebahkan Ibu di kasur, meski rona wajah Ibu sudah tak lagi menunjukan
kantuknya. Beberapa detik setelah itu, gema adzan magrib terdengar dari toa tua
mushola samping rumah.
“Ayo bu, kita
wudhu,” ajak saya sambil memijit-mijit lengan Ibu.
“Duluan saja” jawab Ibu
kemudian bangun dari peraduan.
“Ibu mau kemana, ini
sudah magrib lho bu?” tanyaku penasaran.
“Mau nutup kandang
ayam.” Singkat Ibu menimpali.
“oalah... itu lagi
jadi tugas ku bu, biar aku saja bu, aku saja.” Cepat ku mengejar langkah Ibu
dan memegang kedua lengan ibu dan mempersilahkan Ibu untuk wudhu terlebih
dahulu. Saya pun bergegas menuju kandang ayam sambil menggaruk-garuk kepala
meski rambut tidak terasa gatal.

0 komentar:
Posting Komentar