Selasa, 30 Januari 2018

Syiah



Jogja,  10 Agustus 2016



      Nikmatnya hangat senja tanah kelahiran. Di ruang tamu, saya mendapati wanita baya begitu anteng di ujung sofa. Tapih menjadi busana yang akrab bagi perempuan yang 24 tahun silam telah berhasil melahirkan anak terahirnya yang kesembilan. Wajahnya teduh, tergambar keihlasan yang lekat.
     “Bu, sore ini yang ngurus ayam biar ku saja ya bu” ujar saya pada Ibu. Berharap Ibu bisa tetap melanjutkan membaca. Biasanya, rutinitas Ibu yang dilaui di kala senja adalah memastikan bahwa ayam-ayam peliharaan yang sejak pagi dikeluarkan dari kandang telah pulang sebelum adzan maghrib berkumandang.
     “bener?” tanya Ibu yang belum yakin.
     “Iya bu, cuma nutup kandang tok kan, gampang.” Jawabku dengan nada yakin ditambah menyunggingkan senyum.
      Melihat langit meredup, saya melangkahkan kaki menuju kandang ayam. Ternyata baru sebagian ayam yang pulang. Akhirnya ku putuskan untuk menunda menutup kandang dan kembali masuk rumah.
      Kembali saya menemani Ibu di ruang tamu. Tersenyum menatapnya, dan Ibu pun tersadar sedang dibidik oleh kedua mata saya. Ibu membalas tatapan saya sejenak, dan kembali melanjutkan aktifitasnya kala itu, membaca. Ya, membaca adalah salah satu kegemaran ibu yang menurut saya begitu elegan . Di tengah kesibukannya yang menggunung, Ibu masih menyempatkan untuk membaca. Buku-buku favoritnya adalah yang berkaitan dengan keislaman, terutama ibadah. Wajar saja, diantara suami dan semua anak-anaknya, Ibu lah yang memiliki hafalan do’a paling banyak. Kegemaran Ibu membaca  Buku pun tak lantas menghilangkan kewajibannya untuk membaca Alquran. Seusai magrib, begitu khidmat Ibu menikmati rangkaian ayat demi ayat yang dibaca dari mushaf hijau besar kesayangannya.
      Saya mendekat, duduk di samping kanan Ibu.  Saya dekap tubuh mungilnya. Ibu hanya menoleh sejenak ke arah saya dengan sedikit keheranan, kemudian kembali melanjutkan bacaanya. Memang memeluk Ibu adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan, pun menciumnya.
       “Gimana bu bukunya?” tanya saya sambil menunjuk dengan lirikan bola mata ke arah buku putih yang Ibu pegang. Judulnya Haji, buku yang belum selesai saya baca dan tergeletak di meja begitu saja.
      “Ini orangnya pinter banget ya,” Jawab Ibu.
      Saya mengernyitkan dahi, terperanjat mendengar jawaban Ibu. Bertanya-tanya, ko bisa secepat itu Ibu mampu menyimpulkan pemikiran penulis.
       “Sudah baca sampai mana Bu?” penasaran saya menimpali.
       “Ini.” Ibu menjawab dengan menunjukan banyaknya lembaran yang telah beliau baca. Sayapun tersenyum dan mengangguk-angguk. Ternyata Ibu baru membaca pengantar dari penerjemah yang menceritakan perihal pengarang Buku. Pada beberapa halawan awal tersebut, penerjemah mengulas singkat kehidupan Dr. Ali Shariati, pengarang yang berkebangsaan Iran tersebut.
      Saya memang cukup mengagumi Dr. Ali Shariati, dan mengoleksi beberapa buku yang beliau tulis. Laki-laki yang lahir pada 23 November 1933 tersebut hingga saat ini masih banyak menginspirasi banyak manusia hampir di semua belahan bumi. Arsitek dan ideolog revolusi Iran, begitu sebagian julukan aktivis peraih doktor filsafat dan sosiologi Universitas Sorbonne tersebut.
      “Bu,. Itu yang nulis orang Syiah lho...” Tambahku dengan nada sedikit meledek. Sontak Ibu, langsung menunjukan ekspresi kaget.
      “Apa iya?” cepat Ibu menimpali.
      “Iya,” jawabku dengan tersenyum.
      “Untuk apa beli buku-buku Syiah yang sesat? Kan banyak buku-buku yang nda sesat,” papar ibu dengan nada meyakinkan.
      Saya tersenyum tenang sejenak, dan kembali bertanya. “Dari mana ibu tau, kalau Syiah itu sesat?.
      “Lha itu, cari aja di google. Syiah itu aneh-aneh, masa kepala sendiri dilukai sampe berdarah-darah, masa boleh nikah kontrak, dan Ali jadi Nabi.” Saut ibu dengan menggebu, hingga beberapa saat saya hanya terdiam.
      “Sekarang saya mau tanya Bu, Ibu aktif di ‘Aisyiyah kan?” pelan dan hati-hati ku bertanya dengan selalu beriring senyum
      “Iya,” jawab Ibu singkat.
      “Ibu pernah denger nda bu, kalo Majlis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyatakan bahwa Syiah itu sesat?
      Ibu terdiam, terlihat ekspresi wajahnya mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Kata Ketua cabang Muhammadiyah kemarin waktu pengajian, Syiah sudah jelas sesat.” Ibu masih yakin dengan pemahamannya, dan ku masih tetap mencoba tersenyum hangat mendengar argumen-argumen Ibu.
      “hhmmm., begini bu, sedikit yang pernah anak bungsumu ini dengar, PP Muhammadiyah tidak pernah menyatakan bahwa Syiah itu sesat. Kalo sebagian tokoh Muhammadiyah menyatakan sesat memang ada, tapi tidak semua. Gitu bu.. hehehe”
      “Terus, itu gimana, kan banyak buktinya Syiah yang nikah kontrak, benci sama Abu Bakar, Umar, Utsman?”
     “Syiah memang ada yang sesat bu, tapi tidak semua Syiah itu sesat. Sama seperti Sunni bu, Sunni juga ada yang sesat juga kan bu.” Ku berhenti sejenak, dan terlihat ibu tidak keberatan dengan argumen-argumen yang sedikit saya ceritakan.
      “Ibu mau denger cerita nda bu?” Ibu menganggukan kepala, tanda bersedia mendengar cerita yang saya tawarkan.
      “Jadi begini bu,  tanggal 9 November 2004, raja Abdullah II bin Husein dari Yordania pernah mengadakan hajatan yang menghasilkan The Amman Message, kalo bahasa arabnya Risalah Amman. Risalah itu di tandatangani oleh lebih dari 500 ulama-ulama dari 84 negara. Kalo dari Indonesia yang tanda tangan ada Maftuh Basyuni selaku Mentri Agama, Din Syamsuddin perwakilan Muhammadiyah, dan Hasyim Muzadi perwakilan NU.  Intinya, para ulama-ulama yang berkumpul itu bersepakat untuk menyerukan perdamaian, persatuan dan toleransi. Termasuk mengakui Syiah sebagai salah satu madzhab bagian dari Islam.” Pelan tapi pasti ku menceritakan.
     “Ibu pernah denger berita ini nda Bu?” ku kembali bertanya dan Ibu hanya menjawab dengan gelengan kepala. “Ya begitulah bu, memang ada yang nda seneng kalo umat Islam bersatu. Jadi berita seperti ini dibungkam, ditenggelamkan. Yang banyak dimunculkan ya Syiah sesat, Syiah bukan Islam, Syiah Yahudi, Syiah kawin kontrak, Syiah tidak mengakui nabi Muhammad. Pokoknya yang buruk-buruk, yang bisa bikin umat Islam itu terpecah belah, saling membenci, dan membunuh” dengan semangat ku bercerita.
      Astaghfirullah, kepala Ibu sudah tersandar di sofa. ternyata Ibu sampai tertidur mendengar ku terus ngoceh. Wajah Ibu terlihat sudah keriput, namun tetap nampak bersih dan ayu. Pasti Ibu lelah beraktifitas dari sebelum subuh. Tak tega melihat Ibu duduk tertidur di sofa, pelan-pelan ku bopong tubuhnya untuk dipindahkan ke kasur. Baru sedikit tubuh Ibu terangkat, mata Ibu justru terbuka dan merasa tidak nyaman dibopong untuk dipindahkan. Meski demikian, saya terus melanjutkan untuk membopong Ibu. Ibu terkekeh-kekeh dengan sedikit memberontak.
     Akhirnya saya berhasil merebahkan Ibu di kasur, meski rona wajah Ibu sudah tak lagi menunjukan kantuknya. Beberapa detik setelah itu, gema adzan magrib terdengar dari toa tua mushola samping rumah.
      “Ayo bu, kita wudhu,” ajak saya sambil memijit-mijit lengan Ibu.
     “Duluan saja” jawab Ibu kemudian bangun dari peraduan.
     “Ibu mau kemana, ini sudah magrib lho bu?” tanyaku penasaran.
      “Mau nutup kandang ayam.” Singkat Ibu menimpali.
      “oalah... itu lagi jadi tugas ku bu, biar aku saja bu, aku saja.” Cepat ku mengejar langkah Ibu dan memegang kedua lengan ibu dan mempersilahkan Ibu untuk wudhu terlebih dahulu. Saya pun bergegas menuju kandang ayam sambil menggaruk-garuk kepala meski rambut tidak terasa gatal.


0 komentar:

Posting Komentar