Selasa, 30 Januari 2018

Surat untuk Indana



Yogyakarta, 8 November 2017



Untukmu Indana, seseorang yang dekat di kehidupan saya.

Assalaamu'alaykum WW

Alhamdulillahirabbil'alamiiin, Tuhan yang maha kuasa masih memberikan kesempatan kepada kita, terutama saya untuk kembali menghirup udara segar. Shalawat serta salam tercurah untuk sosok yang paling adil, beliaulah Muhammad SAW. Manusia biasa yang terpilih untuk menjadi teladan semua mahluk.

Indana,.
saya sengaja menulis surat ini dan mungkin agak panjang. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Saat pertama saya mengenalmu di HMI, saya tidak melihat sesuatu yang spesial darimu. Lambat laun tanpa sengaja engkau semakin menampakkan sisi-sisi yang menurut saya berbeda dari yang lain. Saat itu saya menilainya sebagai suatu yang istimewa.

Singkat cerita, di semester VII saya berbicara sangat serius denganmu. Saya mengajak engkau menjadi bagian dari masa depan saya. Saya masih ingat betul, responmu sungguh diluar ekspektasi. Engkau marah. Engkau kecewa karena menganggap saya telah melakukan  paradoks. Bicara idealisme, keIslaman, dan kader sejati, namun masih payah dalam menghormati perempuan. Ya, saat itu engkau merasa tidak dihormati ketika saya mengajak engkau menjalin hubungan, tapi saya belum berani melamar.

Saya pun pulang dengan rasa malu tertunduk lesu dan merasa begitu bodoh. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, apalagi untuk menggarap skripsi. Hingga beberapa hari setelah “insiden” itu, engkau menulis untuk saya secarik surat. Yang isinya menurut saya juga paradoks, tapi saya begitu gembira membacanya. Engkau meminta maaf dan akan menjaga niat baik saya untuk memperistrimu kelak. Engkau menyatakan bahwa berharap memiliki suami seperti saya dan bersedia menuggu hingga saya siap melamar. Meskipun sebelum ada ijab qabul engkau menolak untuk mengubah pola hubungan sebagaimana biasanya selama berproses bersama di HMI.

Indana,
Satu bulan yang lalu, akhirnya tumor ganas yang bercokol di bahu kanan saya Alhamdulillah bisa terangkat. Meskpun konsekensinya tangan saya juga harus ikut terangkat dari tubuh saya. Hal ini tidak dapat saya pungkiri sebagai penggalan kisah hidup yang berat. Tangan yang selama ini membantu saya menulis, mengendarai motor, mencuci, dan masih banyak hal lagi harus terpisah dari jazad ini dan tidak dapat digunakan lagi. Tentu banyak hikmah yang saya peroleh dari takdir ini, semoga juga buat semua yang mengetahui kondisi saya. Bahwa sejatinya manusia hanyalah mahluk yang sungguh sangat-sangat lemah. Manusia boleh saja berencana, berambisi setinggi langit. Namun semua harus tetap tunduk pada ketentuan-Nya. Begitupun tumor yang menemani saya dua tahun terahir ini, telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Baik cara berpikir, orientasi hidup, hingga paradigma saya dalam menghayati keberadaan Tuhan.

Indana..
Engkau pernah menyatakan, tak usah ragukan kesetiaanmu menunggu saya datang ke rumah ibu, bapakmu untuk melamar. Saya sampai saat ini pun tidak ragu. Terimakasih banyak untuk hal itu. Namun satu hal pokok yang ingin saya sampaikan kali ini adalah. Saya ingin memohon maaf, bahwa saya tidak dapat melanjutkan rencana saya untuk menjadikan engkau masa depan saya. Perlu lugas saya utarakan, saya dengan bertambah ketidaksempurnaan saya pasca operasi, membuat saya berkeyakinan bahwa engkau akan lebih baik jika bukan dengan saya. Saat ini saya butuh waktu untuk kembali menata hidup saya, tanpa tangan kanan saya. Rencana untuk hidup bersama akan membuat permasalahan yang sebaiknya tidak hadir dalam hidup kita Indana. Keluagamu belum tentu menerima saya dengan keadaan saya yang kurang ini. Jika memaksakan, engkau juga harus menempa mental untuk bersanding dengan orang yang akan dilihat oleh  banyak pasang mata yang melihat mansia tidak utuh, dan masih banyak persoalan yang akan muncul.

Indana
Saya sedang membuka jalan baru, saya bernafas dengan penghayatan yang berbeda, akan lebih baik engkau cukup menjadi masa lalu saya. Begitupun saya, cukup menjadi masa lalumu. Lupakan dan lanjutkanlah cita-cita perjuanganmu. Masih banyak laki-laki yang dapat menjadi partner hidupmu, dengan kesiapan yang lebih sempurna.

Indana
Saya tidak ingin engkau membalas surat ini. Segera tutup lembaran kisah yang pernah kita buka. Hentikan rencana yang pernah kita gulirkan. Saya akan bahagian dengan hidup saya yang baru. Saya yakin diluar sana, engkau pun begitu. Tak usah menemui, atau menghubungi lagi. Sekali lagi, saya dan engkau adalah masa lalu.



Kota Barat, 28 November 2017


Diaz Akhmad

*Surat diatas hanyalah fiktif belaka.

0 komentar:

Posting Komentar