Yogyakarta, 8 November 2017
Untukmu
Indana, seseorang yang dekat di kehidupan saya.
Assalaamu'alaykum
WW
Alhamdulillahirabbil'alamiiin,
Tuhan yang maha kuasa masih memberikan kesempatan kepada kita, terutama saya
untuk kembali menghirup udara segar. Shalawat serta salam tercurah untuk sosok
yang paling adil, beliaulah Muhammad SAW. Manusia biasa yang terpilih untuk
menjadi teladan semua mahluk.
Indana,.
saya
sengaja menulis surat ini dan mungkin agak panjang. Ada beberapa hal yang ingin
saya sampaikan. Saat pertama saya mengenalmu di HMI, saya tidak melihat sesuatu
yang spesial darimu. Lambat laun tanpa sengaja engkau semakin menampakkan
sisi-sisi yang menurut saya berbeda dari yang lain. Saat itu saya menilainya
sebagai suatu yang istimewa.
Singkat
cerita, di semester VII saya berbicara sangat serius denganmu. Saya mengajak
engkau menjadi bagian dari masa depan saya. Saya masih ingat betul, responmu
sungguh diluar ekspektasi. Engkau marah. Engkau kecewa karena menganggap saya
telah melakukan paradoks. Bicara
idealisme, keIslaman, dan kader sejati, namun masih payah dalam menghormati
perempuan. Ya, saat itu engkau merasa tidak dihormati ketika saya mengajak
engkau menjalin hubungan, tapi saya belum berani melamar.
Saya
pun pulang dengan rasa malu tertunduk lesu dan merasa begitu bodoh. Makan tak
enak, tidur tak nyenyak, apalagi untuk menggarap skripsi. Hingga beberapa hari
setelah “insiden” itu, engkau menulis untuk saya secarik surat. Yang isinya
menurut saya juga paradoks, tapi saya begitu gembira membacanya. Engkau meminta
maaf dan akan menjaga niat baik saya untuk memperistrimu kelak. Engkau
menyatakan bahwa berharap memiliki suami seperti saya dan bersedia menuggu
hingga saya siap melamar. Meskipun sebelum ada ijab qabul engkau menolak untuk
mengubah pola hubungan sebagaimana biasanya selama berproses bersama di HMI.
Indana,
Satu
bulan yang lalu, akhirnya tumor ganas yang bercokol di bahu kanan saya Alhamdulillah
bisa terangkat. Meskpun konsekensinya tangan saya juga harus ikut terangkat
dari tubuh saya. Hal ini tidak dapat saya pungkiri sebagai penggalan kisah
hidup yang berat. Tangan yang selama ini membantu saya menulis, mengendarai
motor, mencuci, dan masih banyak hal lagi harus terpisah dari jazad ini dan
tidak dapat digunakan lagi. Tentu banyak hikmah yang saya peroleh dari takdir
ini, semoga juga buat semua yang mengetahui kondisi saya. Bahwa sejatinya
manusia hanyalah mahluk yang sungguh sangat-sangat lemah. Manusia boleh saja
berencana, berambisi setinggi langit. Namun semua harus tetap tunduk pada
ketentuan-Nya. Begitupun tumor yang menemani saya dua tahun terahir ini, telah
mengubah banyak hal dalam hidup saya. Baik cara berpikir, orientasi hidup,
hingga paradigma saya dalam menghayati keberadaan Tuhan.
Indana..
Engkau
pernah menyatakan, tak usah ragukan kesetiaanmu menunggu saya datang ke rumah
ibu, bapakmu untuk melamar. Saya sampai saat ini pun tidak ragu. Terimakasih
banyak untuk hal itu. Namun satu hal pokok yang ingin saya sampaikan kali ini
adalah. Saya ingin memohon maaf, bahwa saya tidak dapat melanjutkan rencana
saya untuk menjadikan engkau masa depan saya. Perlu lugas saya utarakan, saya
dengan bertambah ketidaksempurnaan saya pasca operasi, membuat saya
berkeyakinan bahwa engkau akan lebih baik jika bukan dengan saya. Saat ini saya
butuh waktu untuk kembali menata hidup saya, tanpa tangan kanan saya. Rencana
untuk hidup bersama akan membuat permasalahan yang sebaiknya tidak hadir dalam
hidup kita Indana. Keluagamu belum tentu menerima saya dengan keadaan saya yang
kurang ini. Jika memaksakan, engkau juga harus menempa mental untuk bersanding
dengan orang yang akan dilihat oleh
banyak pasang mata yang melihat mansia tidak utuh, dan masih banyak
persoalan yang akan muncul.
Indana
Saya
sedang membuka jalan baru, saya bernafas dengan penghayatan yang berbeda, akan
lebih baik engkau cukup menjadi masa lalu saya. Begitupun saya, cukup menjadi
masa lalumu. Lupakan dan lanjutkanlah cita-cita perjuanganmu. Masih banyak
laki-laki yang dapat menjadi partner hidupmu, dengan kesiapan yang lebih
sempurna.
Indana
Saya
tidak ingin engkau membalas surat ini. Segera tutup lembaran kisah yang pernah
kita buka. Hentikan rencana yang pernah kita gulirkan. Saya akan bahagian
dengan hidup saya yang baru. Saya yakin diluar sana, engkau pun begitu. Tak
usah menemui, atau menghubungi lagi. Sekali lagi, saya dan engkau adalah masa
lalu.
Kota Barat, 28 November 2017
Diaz Akhmad
*Surat diatas hanyalah fiktif belaka.

0 komentar:
Posting Komentar