Ruang tamu, 25 April 2016
Nabi Muhammad SAW berakhlak Alquran. Begitulah
pernyataan 'Aisyah dalam suatu riwayat. Pertanyaan yang menggelitik adalah,
Bukankah Kanjeng Nabi mendapat gelar Al Amin sebelum menjadi Rasul, sebelum
peristiwa gua Hira?
Fakta tersebut, mirip dengan orang-orang di
kampung kelahiran (Dusun kecil di Bumiayu). Banyak petani tua yang memiliki
falsafah hidup yang begitu tinggi. Ketika menanam pohon, dari lisan mereka
terucap, "angger nyong ora ngalami, muga-muga anak putu bisa
ngalami" (Jika saya tidak mengalami, semoga anak cucu bisa mengalami).
Sebuah pernyataan yang mencerminkan sikap altruisme, keihlasan dan cinta.
Padahal, jika di cek hafalan ayat Alquran atau hadits, sedikit yang ada di
memori mereka.
Contoh lain adalah, keberanian orang desa untuk
menikahkan anaknya. Tidak sedikit yang mendorong anaknya berumah tangga tanpa
menunggu mapan, bahkan tanpa menunggu memiliki pekerjaan. Jika di tanya,
jawaban klasik yang muncul adalah, "rejeki gampang di golet" (rezeki
mudah di cari). Jawaban itu sangat sering mucul, walaupun kemungkinan besar
banyak yang belum menggali secara mendalam An Nur ayat 32:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang
sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui."
Fakta-fakta tersebut menjadi salah satu indikasi
bahwa manusia adalah benar ciptaan Allah SWT. Dalam diri manusia terdapat unsur
Allah SWT. Konsekuensinya manusia mewarisi sifat-sifat penciptanya, kemudian
menjadi fitrah manusia untuk mencari nilai-nilai yang asli dan menginkari
nilai-nilai yang bersebrangan dengan nurani yang ada dalam diri manusia.
Sayangnya, proses pencarian keaslian, kesucian
tersebut sering terhijab oleh budaya instan yang kini menggelayuti umat
manusia. Sehingga munculah istilah "wong jawa ilang jawane" (orang
Jawa hilang Jawanya). Budaya instan sebagai rentetan panjang dari
berbagai fenomena-fenomena sosial, mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang
mengantarkan manusia pada keaslianya, seperti berkontemplasi, bertadabbur, dan
dzikir.
Berangkat dari kegelisahan itu, bercampur dengan
haru bahagia penulis menyambut perjanjian agung yang akan di langsungkan oleh
ayunda 'Afidatun Nasihah dengan calon mitra hidup, mas Andi Hermanto. Maka
bersama ini, penulis mengajak kedua mempelai untuk berkontemplasi dengan salah
satu tanda qauliyah-Nya dalam Albaqarah ayat 187:
".....mereka
adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..."
Alquran menganalogikan suami dan istri dengan
pakaian, secara fungsional ada beberapa pesan tersirat. Sebelumnya, tentu
spekulasi penulis sangat boleh di ragukan atau bahkan di nafikan, mengingat
penulis bukanlah mufasir, ataupun orang yang alim. Satu lagi yang menjadi
alasan, kenapa pemaparan penulis patut untuk di ragukan adalah karena penulis
belum menikah. Namun dalam hal ini, tanpa bermaksud menggurui, penulis hanya
mencoba sidikit menyomot hikmah dari sebagian ayat dari mukjizat terahir.
Diantaranya adalah:
1.Memperindah
Pakaian menutupi yang tidak pantas di lihat.
Wanita yang dalam tubuhnya dihinggapi terlalu banyak lemak maka dapat di
antisipasi dengan menghindari pakaian yang berwarna putih, menhindari jenis
pakaian berbahan jersey, atau di akali dengan menggunakan pakaian bergaris
vertikal. Begitupun suami istri, seyogyanya istri memperindah suami.
Sebaliknya, suamipun memperindah istri. Saling menutupi kekurangan, menutupi aib
dan saling menyempurnakan. Tidak hanya itu, suami istri juga saling
menasihat-nasihati dalam kebaikan dan takwa, mengingatkan dengan penuh
kehangatan.
Sebuah kemustahilan, ketika manusia mengharapkan
suami atau istri yang sempurna. Padahal, bisa jadi kekurangan pasangan adalah
pintu masuk kebahagiaan rumah tangga. Dengan cinta, kekuarangan tersebut
menjadi wahana fastabiqul khairat menuju ridha-Nya. Bukankah mendaki
bersama ke puncak itu lebih indah, dari pada hanya menunggu pasangan di puncak?
2. Melindungi
Ketika panas, pakaian mampu melindungi kulit dari
sengatan panas matahari. Ketika dingin, pakaian menjadi penghangat dari terpaan
udara yang bercampur uap air. Ketika terjatuh, kulit kita tidak langsung
terbentur, bergesekan, sehingga dapat menghindari atau setidaknya meminimalisir
luka. Begitulah karakter pakaian yang juga harus di tiru oleh suami dan istri.
Adakalanya istri menganggap pelukan suami adalah jawaban, ketika sang istri
menghadapi kehawatiran tentang suatu hal. Senyuman istri menjadi obat dari
beban rutinitas suami, dan seterusnya.
Sebagaimana kamulase pakaian tentara yang turut
melindungi di medan perang, suami dan istri juga seyogyanya mampu harmoni dalam
mengarungi bahtera kehidupan yang barang tentu di hadapkan dengan
masalah-masalah. Suami yang amarahnya memuncak, maka istri memposisikan peran
sebagai penyejuk hati. Istri yang terhanyut dalam gundah gulana, suami hadir
sebagai penenang jiwa. Istri menjadi air ketika suami terlalu panas, suami
menjadi motivator ketika istri kehilangan semangat, dan lain sebagainya.
3. Simbol
Secara artifisial, pakaian mencerminkan
penggunanya. Bersorban, berjubah biasanya menunjukan orang tersebut adalah
'ustadz'. Berpakaian mewah, mahal, biasanya mengartikan penggunanya adalah dari
kalangan orang kaya. Begitu pula suami dan istri. Bisa jadi suami yang rapi,
wangi adalah cermin dari istri yang rajin. Istri yang tidak ikut kegiatan
masyarakat, bisa jadi suaminya adalah seorang yang konservatif, dan masih
banyak kemungkinan lain yang sering di kaitkan dengan pasangan. Wallahu
a'lam bisshowab.
Akhirnya, selamat berjuang dengan mitra hidup
yang telah di pilih menuju sakinah mawaddah, warrahmah, selamat
menciptakan generasi yang hidup untuk mengabdi. Mba Ida dan Mas Andi,
Baaarokallaahu laka wa baroka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoirin.
(Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan
mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). Amiin ya Rabb.
Barangkali berminat juga menggali isyarat Al
Baqarah, 223:
"Isteri-isterimu
adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam..."
:) ?

0 komentar:
Posting Komentar