Selasa, 30 Januari 2018

Filosofi Pakaian



Ruang tamu, 25 April 2016



Nabi Muhammad SAW berakhlak Alquran. Begitulah pernyataan 'Aisyah dalam suatu riwayat. Pertanyaan yang menggelitik adalah, Bukankah Kanjeng Nabi mendapat gelar Al Amin sebelum menjadi Rasul, sebelum peristiwa gua Hira?

Fakta tersebut, mirip dengan orang-orang di kampung kelahiran (Dusun kecil di Bumiayu). Banyak petani tua yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Ketika menanam pohon, dari lisan mereka terucap, "angger nyong ora ngalami, muga-muga anak putu bisa ngalami" (Jika saya tidak mengalami, semoga anak cucu bisa mengalami). Sebuah pernyataan yang mencerminkan sikap altruisme, keihlasan dan cinta. Padahal, jika di cek hafalan ayat Alquran atau hadits, sedikit yang ada di memori mereka.

Contoh lain adalah, keberanian orang desa untuk menikahkan anaknya. Tidak sedikit yang mendorong anaknya berumah tangga tanpa menunggu mapan, bahkan tanpa menunggu memiliki pekerjaan. Jika di tanya, jawaban klasik yang muncul adalah, "rejeki gampang di golet" (rezeki mudah di cari). Jawaban itu sangat sering mucul, walaupun kemungkinan besar banyak yang belum menggali secara mendalam An Nur ayat 32:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui."

Fakta-fakta tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa manusia adalah benar ciptaan Allah SWT. Dalam diri manusia terdapat unsur Allah SWT. Konsekuensinya manusia mewarisi sifat-sifat penciptanya, kemudian menjadi fitrah manusia untuk mencari nilai-nilai yang asli dan menginkari nilai-nilai yang bersebrangan dengan nurani yang ada dalam diri manusia.

Sayangnya, proses pencarian keaslian, kesucian tersebut sering terhijab oleh budaya instan yang kini menggelayuti umat manusia. Sehingga munculah istilah "wong jawa ilang jawane" (orang Jawa hilang Jawanya). Budaya instan sebagai rentetan panjang dari berbagai fenomena-fenomena sosial, mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang mengantarkan manusia pada keaslianya, seperti berkontemplasi, bertadabbur, dan dzikir.

Berangkat dari kegelisahan itu, bercampur dengan haru bahagia penulis menyambut perjanjian agung yang akan di langsungkan oleh ayunda 'Afidatun Nasihah dengan calon mitra hidup, mas Andi Hermanto. Maka bersama ini, penulis mengajak kedua mempelai untuk berkontemplasi dengan salah satu tanda qauliyah-Nya dalam Albaqarah ayat 187:
".....mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka..."
Alquran menganalogikan suami dan istri dengan pakaian, secara fungsional ada beberapa pesan tersirat. Sebelumnya,  tentu spekulasi penulis sangat boleh di ragukan atau bahkan di nafikan, mengingat penulis bukanlah mufasir, ataupun orang yang alim. Satu lagi yang menjadi alasan, kenapa pemaparan penulis patut untuk di ragukan adalah karena penulis belum menikah. Namun dalam hal ini, tanpa bermaksud menggurui, penulis hanya mencoba sidikit menyomot hikmah dari sebagian ayat dari mukjizat terahir. Diantaranya adalah:
1.Memperindah
Pakaian menutupi yang tidak pantas di lihat. Wanita yang dalam tubuhnya dihinggapi terlalu banyak lemak maka dapat di antisipasi dengan menghindari pakaian yang berwarna putih, menhindari jenis pakaian berbahan jersey, atau di akali dengan menggunakan pakaian bergaris vertikal. Begitupun suami istri, seyogyanya istri memperindah suami. Sebaliknya, suamipun memperindah istri. Saling menutupi kekurangan, menutupi aib dan saling menyempurnakan. Tidak hanya itu, suami istri juga saling menasihat-nasihati dalam kebaikan dan takwa, mengingatkan dengan penuh kehangatan.
Sebuah kemustahilan, ketika manusia mengharapkan suami atau istri yang sempurna. Padahal, bisa jadi kekurangan pasangan adalah pintu masuk kebahagiaan rumah tangga. Dengan cinta,  kekuarangan tersebut menjadi wahana fastabiqul khairat menuju ridha-Nya. Bukankah mendaki bersama ke puncak itu lebih indah, dari pada hanya menunggu pasangan di puncak?

2. Melindungi
Ketika panas, pakaian mampu melindungi kulit dari sengatan panas matahari. Ketika dingin, pakaian menjadi penghangat dari terpaan udara yang bercampur uap air. Ketika terjatuh, kulit kita tidak langsung terbentur, bergesekan, sehingga dapat menghindari atau setidaknya meminimalisir luka. Begitulah karakter pakaian yang juga harus di tiru oleh suami dan istri. Adakalanya istri menganggap pelukan suami adalah jawaban, ketika sang istri menghadapi kehawatiran tentang suatu hal. Senyuman istri menjadi obat dari beban rutinitas suami, dan seterusnya.
Sebagaimana kamulase pakaian tentara yang turut melindungi di medan perang, suami dan istri juga seyogyanya mampu harmoni dalam mengarungi bahtera kehidupan yang barang tentu di hadapkan dengan masalah-masalah. Suami yang amarahnya memuncak, maka istri memposisikan peran sebagai penyejuk hati. Istri yang terhanyut dalam gundah gulana, suami hadir sebagai penenang jiwa. Istri menjadi air ketika suami terlalu panas, suami menjadi motivator ketika istri kehilangan semangat, dan lain sebagainya.

3. Simbol
Secara artifisial, pakaian mencerminkan penggunanya. Bersorban, berjubah biasanya menunjukan orang tersebut adalah 'ustadz'. Berpakaian mewah, mahal, biasanya mengartikan penggunanya adalah dari kalangan orang kaya. Begitu pula suami dan istri. Bisa jadi suami yang rapi, wangi adalah cermin dari istri yang rajin. Istri yang tidak ikut kegiatan masyarakat, bisa jadi suaminya adalah seorang yang konservatif, dan masih banyak kemungkinan lain yang sering di kaitkan dengan pasangan. Wallahu a'lam bisshowab.
Akhirnya, selamat berjuang dengan mitra hidup yang telah di pilih menuju sakinah mawaddah, warrahmah, selamat menciptakan generasi yang hidup untuk mengabdi. Mba Ida dan Mas Andi, Baaarokallaahu laka wa baroka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoirin. (Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan). Amiin ya Rabb.
Barangkali berminat juga menggali isyarat Al Baqarah, 223:
"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam..."
:) ?

0 komentar:

Posting Komentar