Gajah gemuk dan Muhammadiyah menjadi analaogi
yang kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi persyarikatan yang melaju
terseok-seok lantaran semakin tingginya kuantitas namun tidak berbanding lurus
dengan kualitas dari waktu ke waktu. Persoalan tersebut tidak dapat ditampik
turut memborok di PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah), yang mana jumlahnya
telah mencapai 172 perguruan tinggi namun belum mampu menghasilkan output yang
memuaskan. Salah satu indikatornya adalah jumlah mahasiswa yang mau berkecimpung
di ortom (organisasi otonom) di PTM seperti IMM (Ikatan mahasiswa
Muhammadiyah), TS (Tapak Suci) dan HW (Hizbul Wathan) memiliki persentasi
kecil.
UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Yogyakarta yang
merupakan tempat penulis belajar dapat di jadikan contoh fenomena yang patut di
gelisahkan oleh kader – kader Muhammadiyah. Mahasiswa baru tahun 2012 menembus
angka empat ribu ternyata tidak mencapai 10 persen yang aktif mengikuti jenjang
– jenjang perkaderan hingga menjadi pengurus. Sayangnya, hal itu terulang
kembali pada tahun-tahun berikutnya.
Jika di baca dengan seksama, menurut hemat
penulis ada beberapa musabab mengapa fenomena itu menjadi siklus.Pertama, IMM
yang berada di PTM terbuai dengan zona nyamanya. Sebagai ortom Muhammadiyah IMM
berkedudukan setara dengan rektorat dan satu-satunya organisasi pergerakan yang
sah. Hal ini merupakan posisi yang sangat strategis untuk bergerak, namun pada
kenyataanya tidak semanis yang di harapkan. Pendanaan yang mudah, minimnya
kompetitor mengakibatkan tumbuhnya kader-kader manja yang cenderung pragmatis
dan rapuh.
Kedua, pimpinan yang menjalankan roda
pemerintahan PTM tidak sedikit yang belum mengerti perkaaderan. Hal ini menjadi
konsekwensi logis dari penerimaan dosen dan karyawan yang menjadikan kartu
tanda anggota Muhammadiyah sebagai parameter yang menunjukan keaktifan
berMuhammadiyah. Dampaknya adalah kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh
PTM belum menunjukan keberpihakannya dalam proses perkaaderan yang di gawangi
oleh ortom.
Ketiga, doktrin Muhammadiyah tidak berpolitik
praktis sesuai khittah berbangsa dan bernegara yang telah mendarah daging
diseluruh kalangan warga Muhammadiyah kerap di artikan tidak tepat oleh IMMawan
– IMMawati. Hal itu bisa terlihat dari sedikitnya kader IMM yang mau bertarung
di perpolitikan kampus. Masih banyak Pimpinan – pimpinan organisasi mahasiswa
baik itu Study Club, HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi), DPM (Dewan
Perwakilan Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan
Mahasiswa) dan Komunitas-komunitas yang berjalan tidak sesuai prinsip dan
tujuan persyarikatan.
Ketiga musabab di atas bukanlah masalah yang
ujug-ujug datang bergulir, melainkan sebuah akumuasi dari persoalan-persoalan
yang kecil namun terabaikan. Maka dari itu penyelesaianya pun juga memerlukan
strategi yang terstruktur dan sistematis.Satu hal yang perlu menjadi perhatian
untuk kemudian di telaah menjadi metodologi transformasi adalah politik.
Politik oleh sebagian masyarakat, tidak
terkecuali mahasiswa yang di pandang sebagai golongan terdidik sebagai sesuatu
yang negatif, licik dan menghalalkan segala cara. Persoalan dasar ini yang
harus di selesaikan sebagai langkah awal bagaimana manuver politik IMM di PTM
dapat di jadikan upaya optimalisasai kaderisasi.
Setidaknya ada empat hal yang perlu di tanamkan
kepada seluruh kader IMM sebagai proses penyadaran. Pertama, Politik adalah
fitrah, terlepas dari definisi harfiyahnya, politik bisa di artikan strategi
atau cara untuk mencapai apa yang di inginkan. Artinya politik merupakn
implikasi dari kepemilikan akal pada manusia. Menilik dari definisi tersebut
tidak dapat di pungkiri bawa dari bangun tidur, hingga tidur kembali sudah
berapa ratus manusia berpolitik.
Kedua, Politik itu suci. Politik bisa di
ibaratkan sebuah pisau yang tidak lebih hanya sebuah alat. Dan baik buruk alat
tergantung pada siapa yang menggunakanya. Maka alergi politik bukanlah sesuatu
yang logis, karena pada hakikatnya politik itu suci, politik tidak menentukan
baik buruk, namun yang menentukan adalah subjek yang menggunakanya.
Ketiga, Politik menentukan semua lini kehidupan.
Tidak dapat di pungkiri, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa
yang kita makan di tentukan oleh politik. Contohnya kita yang hidup di
Indonesia dapat membaca buku filsafat sesuka hati, berbeda dengan orang Saudi
Arabia yang tidak diperbolehkan beredarnya buku filsafat di negara yang
bermadzhab hambali tersebut. Contoh lain, kita yang hidup di Indonesia bisa
bermodel rambut sesuka hati, namun berbeda dengan warga Korea Utara yang
potongan rambutnya di atur oleh kebijakan politik Lim Jong Un selaku kepala
negara.
Keempat, Politik menjajnjikan perubahan secara
cepat. Sesuai dengan bunyi Khittah Muhammadiyah yang di sahkan di Denpasar pada
tahun 2002 tentang berbangsa dan bernegara, disebutkan ada dua strategi
perjuangan, yaitu politik kekuasaan dan sosial masyarakat. Dan Muhammadiyah
memilih memperjuangkan perjuangan politik kekuasaan kepada partai politik dan
memilih untuk bergerak di bidang sosial keagamaan. Namun menurut penulis,
Khittah ini tidak untk di kontekstualisasikan pada ranah kampus. Artinya ketika
kader IMM bertarung merebutkan kursi pemerintahan mahasiswa, akan lebih
tepatnya jika dimaknai sebagai jihad menjaga amal usaha Muhammadiyah dari
ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan prinsip dan cita-cita Muhammadiyah. Wallahu
a’lam bisshowab.
Daftar Pustaka
0 komentar:
Posting Komentar