Selasa, 30 Januari 2018

Refleksi Setengah Periode Ketua Umm IMM FTI 2014-2015



Jogja, 25 Januari2015

Bismillahirrahmaanirrahiim
                Geram yang setahun kemarin ku rasa ketika melihat Pimpinan Komisariat yang tidak serius mengurus komisariat sering ku utarakan melalui kritk saran yang menurut sebagian kawanku terdengar pedas. Memang dilema ketika menyampaikan kegelisahan-kegelisahan komisariat saat itu, Pimpinan yang seharusnya di ingatkan malah sangat jarang kelihatan batang hidungnya. Dampaknya yang paling sering terkena gugatan adalah Pimpinan yang aktif, ketua Umum pada waktu itu.
6 bulan lalu dilantik menjadi Ketua Umum IMM FTI, dan sepertinya saya mulai merasa apa yang ketua Umum sebelum periodeku rasakan. Komisariat tidak bisa berjalan ideal dengan berbagai faktor. Saya akan mencoba mencurahkan satu-persatu disini.
  1. Pimpinan karbitan
 Jajaran Pimpinan Komisariat belum sepenuhnya siap untuk mengemban amanah persyarikatan ini. Ketidak siapan ini juga di latar belakangi sedikitnya kader yang masih berpihak dengan Iktan membuat pembentukan komposisi tidak semulus yang diharapkan. Komposisi yang kurang dari separo dari komposisi IMM komiariat FKM, MIPA/JPMIPA dan Farmasi ini ternyata belum juga menciptakan atmosfir yang solid di tubuh PK IMM FTI. Bisa jadi di karenakan beberapa pimpinan yang di dapat dari comat-comot  utntuk melengkapi susunan PK yang saaat itu belum genap.
  1. Pimpinan Meraba-raba
Ibarat adik, maka bisa dikatakan Pimpinan Komisariat Periode 2014-2015 adalah adik kecil yang baru bisa merangkak namun dibiarkan saja ketika harus mendaki gunung. Saya berpikir demikian karena banyak persoalan-persoalan yang sebenarnya sudah muncul di periode sebelumnya, namun karena kurangnya peringatan untuk mengantisipasi, terpaksa periode ini harus terjatuh di lubang yang sama. Sebenarnya terbaca ada beberapa Pimpinan sebelumnya yang mendekat, mendampingi. Namun karena kominikasi yang memang tidak terjalin dengan baik sejak lama, maka kemistri pun tidak terjalin.
  1. Pimpinan sangat berani
Tidak habis pikir, sumpah atas nama tuhan yang di lontarkan saat pelantikan seolah hanya formalitas. Semoga saja penghianatan demi penghianatan di balas secara formalitas oleh Tuhan, tapi apakah mungkin.? Bersedia untuk komitmen menjaga amanah selurus-lurusnya di lupakan dengan berbagai alasan. Biasanya kesibukan kuliah yang menjadi andalan. Yang mengherankan adalah sesibuk apa hingga tidak sempat untuk menjawab sms. Tidak meluangkan waktu satu jam dalam seminggu untuk bersilaturrahmi di sekretariat. Harus di akui, dalam hal ini Pimpinan sangat berani mempermainkan Tuhan dengan menyepelekan sumpah. Kondisi ini erat kaitannya dengan faktor pertama.

0 komentar:

Posting Komentar