Bismillahirrahmaanirrahiim
Geram yang setahun kemarin ku rasa ketika melihat Pimpinan Komisariat yang
tidak serius mengurus komisariat sering ku utarakan melalui kritk saran yang menurut
sebagian kawanku terdengar pedas. Memang dilema ketika menyampaikan
kegelisahan-kegelisahan komisariat saat itu, Pimpinan yang seharusnya di
ingatkan malah sangat jarang kelihatan batang hidungnya. Dampaknya yang paling
sering terkena gugatan adalah Pimpinan yang aktif, ketua Umum pada waktu itu.
6 bulan lalu dilantik menjadi Ketua Umum IMM FTI, dan
sepertinya saya mulai merasa apa yang ketua Umum sebelum periodeku rasakan.
Komisariat tidak bisa berjalan ideal dengan berbagai faktor. Saya akan mencoba
mencurahkan satu-persatu disini.
- Pimpinan karbitan
Jajaran Pimpinan Komisariat belum sepenuhnya siap
untuk mengemban amanah persyarikatan ini. Ketidak siapan ini juga di latar
belakangi sedikitnya kader yang masih berpihak dengan Iktan membuat pembentukan
komposisi tidak semulus yang diharapkan. Komposisi yang kurang dari separo dari
komposisi IMM komiariat FKM, MIPA/JPMIPA dan Farmasi ini ternyata belum juga
menciptakan atmosfir yang solid di tubuh PK IMM FTI. Bisa jadi di karenakan
beberapa pimpinan yang di dapat dari comat-comot utntuk melengkapi
susunan PK yang saaat itu belum genap.
- Pimpinan Meraba-raba
Ibarat adik, maka bisa dikatakan Pimpinan Komisariat
Periode 2014-2015 adalah adik kecil yang baru bisa merangkak namun dibiarkan
saja ketika harus mendaki gunung. Saya berpikir demikian karena banyak
persoalan-persoalan yang sebenarnya sudah muncul di periode sebelumnya, namun
karena kurangnya peringatan untuk mengantisipasi, terpaksa periode ini harus
terjatuh di lubang yang sama. Sebenarnya terbaca ada beberapa Pimpinan
sebelumnya yang mendekat, mendampingi. Namun karena kominikasi yang memang
tidak terjalin dengan baik sejak lama, maka kemistri pun tidak terjalin.
- Pimpinan sangat berani
Tidak habis pikir, sumpah atas nama tuhan yang di
lontarkan saat pelantikan seolah hanya formalitas. Semoga saja penghianatan
demi penghianatan di balas secara formalitas oleh Tuhan, tapi apakah mungkin.?
Bersedia untuk komitmen menjaga amanah selurus-lurusnya di lupakan dengan
berbagai alasan. Biasanya kesibukan kuliah yang menjadi andalan. Yang
mengherankan adalah sesibuk apa hingga tidak sempat untuk menjawab sms. Tidak
meluangkan waktu satu jam dalam seminggu untuk bersilaturrahmi di sekretariat.
Harus di akui, dalam hal ini Pimpinan sangat berani mempermainkan Tuhan dengan
menyepelekan sumpah. Kondisi ini erat kaitannya dengan faktor pertama.
0 komentar:
Posting Komentar