Selasa, 30 Januari 2018

Bergembira dengan FIlsafat



 Jogja, 3 Januari 2016


“Filsafat itu berat, sulit, abstrak dan  memusingkan”, pernyataan tersebut masih sering terdengar di kebanyakan mahasiswa, khususnya di UAD dan lebih khusus lagi IMMawan dan IMMawati. Ketika mendengar kata filsafat maka ekspresi yang muncul adalah manyun, sebal, malas dan ekspresi yang menunjukan ketidak tertarikan lainya. Stigma yang melekat pada filsafat ini lah yang mendorong terbitnya buku-buku filsafat dengan judul dan isi yang unik, seperti filsafat yang menghibur, cara mudah belajar filsafat, dan plato ngafe bareng singa laut. Termasuk diskusi kita pada kali ini, sengaja mengambil judul Gembira Berfilsafat. Harapanya filsafat tidak lagi menjadi momok untuk di pelajari, melainkan suatu yang menyenangkan dan mencerahkan.

Dalam mempelajari filsafat, ada beberapa hal yang perlu menjadi cacatan. Pertama, Target yang ingin di capai. Apakah ingin menjadi filsuf atau ahli filsafat? Perbedaanya adalah jika filsuf mampu berpikir sendiri, bernalar sendiri, memproduksi ide sendiri sedangkan ahli filsafat, paham tentang pemikiran-pemikiran filsuf besar, cabang-cabang filsuf, sejarah filsafat dan lain-lain. Sebagai muslim, perlu di pahami menjadi filsuf adalah wajib, bukankah perintah untuk berpikir begitu banyak? Dan menjadi ahli filsafat tidaklah perlu kita paham seluruhnya, walaupun itu sangat baik ketika kita bisa menjadi filsuf sekaligus ahli filsafat, lebih – lebih untuk mahasiswa jurusan filsafat atau orang yang ingin benar-benar serius belajar filsafat.

Kedua, bedakan antara filsafat sebagai metode berfikir dan filsafat sebagai produk pemikiran. Dengan filsafat bisa menjadikan orang menjadi ateis, dengan filsafat juga bisa menjadikan orang menjadi sangat religius. Filsafat yang di anggap sesat, di kafir –kafirkan, di haramkan adalah karena melihat filsafat sebagai produk pemikiran, bukan sebagaio metode berpikir.

Secara Etimologi, kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.
Filsafat berdasarkan terminologi, memiliki beberapa pengertian menurut para tokoh:
  1. Pengertian filsafat menurut  Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
  2. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
  3. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
  4. Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM)  mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
  5. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan  menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
Filsafat lahir ketika orang tidak percaya jawaban mistis (mitos) dari suatu masalah. Maka dari itu filsafat mengajak untuk berpikir rasional (logos). Ciri – ciri tidak rasional adalah tidak universal. Teori di suatu tempat nerbeda di tempat lain. Inilah yang menjadi gerbang pertama filsafat, kita sulit untuk berhasil berfilsafat ketika kita tidak bersedia untuk berpikir secara rasional. Gerbang selanjutnya, timbulkan rasa keingintahuan (terios), tingkatkan setinggi tingginya. Tidak ada hal biasa di lingkungan kita, semua menjadi biasa karena nalar kita yang sudah banyak di ciderai. Gerbang ketiga yaitu sesuai dengan definisi filsafat itu sendiri, filsafat tidak berhenti untuk menemukan kebenaran, tetapi tujuannya adalah kebijaksanaan, hikmah (wisdom). Filsuf memiliki beberapa tugas, memperjelas konsep, mengkritisi dan membangun argumen yang ketiga konsep tersebut di sebut refleksi. refleksi inilah yang menentukan aksi transformasi.

Berpikir belum tentu berfilsafat, namun berfilsafat sudah pasti berpikir. Berpikir filsafat memiliki karakteristik tersendiri. Beberapa ciri berpikir filsafat dapat dikemukakan sebagai berikut :
  1. Radikal artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
  2. Universal artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jaspers terletak pada aspek keumumannya.
  3. Konseptual artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah seni itu? Apakah keindahan itu?
  4. Koheren dan konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis.
  5. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
  6. Sistematik artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
  7. Komprehensif artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
  8. Bebas artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius.
  9. Bertanggungjawab artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.

 *Tulisan ini di gunakan sebagai pengantar diskusi "Sopo Tresno" IMM Zona 3 UAD

0 komentar:

Posting Komentar