Jogja, 3 Januari 2016
“Filsafat itu berat, sulit, abstrak dan
memusingkan”, pernyataan tersebut masih sering terdengar di kebanyakan
mahasiswa, khususnya di UAD dan lebih khusus lagi IMMawan dan IMMawati. Ketika
mendengar kata filsafat maka ekspresi yang muncul adalah manyun, sebal,
malas dan ekspresi yang menunjukan ketidak tertarikan lainya. Stigma yang
melekat pada filsafat ini lah yang mendorong terbitnya buku-buku filsafat
dengan judul dan isi yang unik, seperti filsafat yang menghibur, cara mudah
belajar filsafat, dan plato ngafe bareng singa laut. Termasuk diskusi kita pada
kali ini, sengaja mengambil judul Gembira Berfilsafat. Harapanya filsafat tidak
lagi menjadi momok untuk di pelajari, melainkan suatu yang menyenangkan dan
mencerahkan.
Dalam mempelajari filsafat, ada beberapa hal yang
perlu menjadi cacatan. Pertama, Target yang ingin di capai. Apakah ingin
menjadi filsuf atau ahli filsafat? Perbedaanya adalah jika filsuf mampu
berpikir sendiri, bernalar sendiri, memproduksi ide sendiri sedangkan ahli
filsafat, paham tentang pemikiran-pemikiran filsuf besar, cabang-cabang filsuf,
sejarah filsafat dan lain-lain. Sebagai muslim, perlu di pahami menjadi filsuf
adalah wajib, bukankah perintah untuk berpikir begitu banyak? Dan menjadi ahli
filsafat tidaklah perlu kita paham seluruhnya, walaupun itu sangat baik ketika
kita bisa menjadi filsuf sekaligus ahli filsafat, lebih – lebih untuk mahasiswa
jurusan filsafat atau orang yang ingin benar-benar serius belajar filsafat.
Kedua, bedakan antara filsafat sebagai metode berfikir dan
filsafat sebagai produk pemikiran. Dengan filsafat bisa menjadikan orang
menjadi ateis, dengan filsafat juga bisa menjadikan orang menjadi sangat
religius. Filsafat yang di anggap sesat, di kafir –kafirkan, di haramkan adalah
karena melihat filsafat sebagai produk pemikiran, bukan sebagaio metode
berpikir.
Secara Etimologi, kata falsafah atau filsafat dalam
bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam
bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia
= persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga
arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.
Filsafat berdasarkan terminologi, memiliki beberapa
pengertian menurut para tokoh:
- Pengertian filsafat menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
- Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
- Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
- Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
- Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
Filsafat lahir ketika orang tidak percaya jawaban
mistis (mitos) dari suatu masalah. Maka dari itu filsafat mengajak untuk
berpikir rasional (logos). Ciri – ciri tidak rasional adalah tidak
universal. Teori di suatu tempat nerbeda di tempat lain. Inilah yang menjadi
gerbang pertama filsafat, kita sulit untuk berhasil berfilsafat ketika kita
tidak bersedia untuk berpikir secara rasional. Gerbang selanjutnya, timbulkan
rasa keingintahuan (terios), tingkatkan setinggi tingginya. Tidak ada
hal biasa di lingkungan kita, semua menjadi biasa karena nalar kita yang sudah
banyak di ciderai. Gerbang ketiga yaitu sesuai dengan definisi filsafat itu
sendiri, filsafat tidak berhenti untuk menemukan kebenaran, tetapi tujuannya
adalah kebijaksanaan, hikmah (wisdom). Filsuf memiliki beberapa tugas,
memperjelas konsep, mengkritisi dan membangun argumen yang ketiga konsep
tersebut di sebut refleksi. refleksi inilah yang menentukan aksi transformasi.
Berpikir belum tentu berfilsafat, namun berfilsafat
sudah pasti berpikir. Berpikir filsafat memiliki karakteristik tersendiri.
Beberapa ciri berpikir filsafat dapat dikemukakan sebagai berikut :
- Radikal artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
- Universal artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia. Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jaspers terletak pada aspek keumumannya.
- Konseptual artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman manusia. Misalnya : Apakah seni itu? Apakah keindahan itu?
- Koheren dan konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir logis.
- Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
- Sistematik artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan tertentu.
- Komprehensif artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
- Bebas artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, bahkan religius.
- Bertanggungjawab artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling tidak terhadap hati nuraninya sendiri.
*Tulisan ini di gunakan sebagai pengantar
diskusi "Sopo Tresno" IMM Zona 3 UAD

0 komentar:
Posting Komentar