Selasa, 30 Januari 2018

BerIMM = Berbahagia




Darunnajah, 20Juli 2014


Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan Organisasi Otonom Muhammadiyah yang bertujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiayiyah. Dari Anggaran Dasar IMM BAB III pasal 7 tersebut tertulis jelas bahwa harapanya output pendidikan di IMM adalah akademisi-akademisi (baca:mahasiswa) dengan tingkah laku terpuji, tabiat yang baik, prilaku yang santun menurut presepsi Islam, atau biasa disebut profetik, karena bercermin dari uswatun hasanah, Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassallam. Selanjutnya akademisi Islam tersebut dibentuk untuk menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sesuai Anggaran Dasar Muhammadiayah BAB III Pasal 6 sebagai Maksud dan Tujuan Muhammadiyah. Dari uraian diatas, dapat di cermati bahwa IMM memiliki tujuan agung nan mulia, yang mana untuk mewujudkanya perlu kerja ekstra mengingat kondisi zaman yang penuh tantangan.

Walaupun tujuan IMM begitu agung dan mulia, IMM tidak selektif dalam mendapatkan input dalam kurikulum pendidikannya. Semua mahasiwa dengan background apapun mempunyai hak yang sama untuk berproses di IMM. Tidak memilih bibit dalam pengaderan, karena dalam IMM semua manusia adalah hamba sekaligus khalifah yang berpeluang sama menjadi umat terbaik.

Berproses di IMM merupakan perjalanan yang tidak singkat, butuh kesabaran, kemauan dan semangat juang tinggi. Mengingat pendidikan di IMM tidak menggunakan metode doktrinisasi yang memaksa anggotanya untuk berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu. IMM sangat menjunjung kesadaran dan pemahaman individu. IMM hanya yad’una ilal khoir,menyeru pada kebaikan. Selebihnya hidayah Allahlah yang berhak mengetuk pintu hati manusia.

Salah satu hal yang lumrah dijumpai dalam organisasi ini adalah berbagai tipologi kader. Disetiap periode selalu ada yang militan ada juga yang “gondal-gandul”, dengan kuantitas dan kualitas yang fluktuatif. Militansi kader bisa dinilai dari keberpihakannya, ditinjau sejauh mana kader tersebut menganggap IMM sebagai sesuatu yang penting. Selanjutnya, dalam tulisan ini satu-persatu penulis mencoba memberikan sedikit gambaran Kenapa IMM itu penting.
  1. IMM adalah Kamu
Tidak sedikit yang beranggapan, ketika mengikuti organisasi maka akan menurunkan prestasi akademik. Ada juga yang beranggapan IMM hanya cocok untuk mahasiswa jurusan non eksak, seperti sosial, agama dan humaniora. Kedua pemahaman sesat ini perlu diluruskan. Memang ada aktivis IMM yang berIPK rendah atau bahkan bermenjadi MABA (Mahasiswa Abadi). Namun jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan kader IMM yang tetap berprestasi gemilang. Aktivis IMM yang berIPK rendah dan yang tak kunjung lulus tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, perlu ditilik faktor-faktor penyebabnya. Biasanya karena harus disambi bekerja, ada juga karena idealisme yang tinggi dan menganggap sistem pendidikan indonesia yang tidak manusiawi sehingga mempunyai jalan sendiri dalam menempuh proses perkuliahan, karena kemalasan dan tidak bisa memenegemen diri, atau alasan yang lain. Jadi bukan karena IMMnya, melainkan kembali pada individunya. IMM dengan Triloginya jelas memformulasikan tiga elemen yang menjadi kebutuhan mutlak akademisi islam. (Intelektualitas, Humanitas, Religiusitas). Salah satu sasaran personal dalam GBHO IMM juga menyebutkan “terbinanya kualitas kader dan pimpinan IMM yang terlatih dan terampil dalam menjalankan perannya ditengah-tengah masyarakat sesuai dengan program, keahlian dan pilihan kerjanya”. Jadi tidak ada alasan untuk menuduh IMM hanya cocok untuk jurusan tertentu, karena IMM adalah kamu. Kegiatan IMM pun sangat fleksibel, dari Mendaki gunung, riset, bakti sosial, seminar, kajian, diskusi, seni dan sebagainya sesuai keinginan dan kebutuhan. Hal tersebut juga sebagai cermin Islam komprehensif yang tidak terdikotomi dengan urusan dunia. Maka dari itu Inovasi dan kreatifitas perlu diperas dari kepala dan dicurahkan sebanyak-banyaknya untuk menciptakan IMM dengan kultur yang "kamu banget" tanpa mengesampingkan tujuan utama.
  1. IMM sebagai Periasai
Ketika seorang mahasiswa memutuskan untuk menjadi kader Muhammadiyah, maka dengan sendirinya terlindung dari hal-hal yang negatif. Hal itu disebabkan beberapa hal.Pertama, rutinitas yang akan mempertemukan dan memperkenalkan dengan orang-orang yang mempunyai keinginan berorganisasi dengan patron islami secara otomatis membawa anggotanya dalam lingkungan yang islami pula. Dalil ketularan wangi jika bergaul dengan tukang penjual minyak wangi berlaku disini. Kedua, pandangan dari luar akan melabeli anggota IMM sebagai pribadi yang religius. Label yang mau tidak mau, suka tidak suka melekat ini menjadi “beban” dan memaksa anggotanya untuk menjaga marwah dirinya sendiri dan marwah ikatan. Biasanya menimbulkan rasa gelisah dan tidak enak hati ketika melakukan hal-hal yang menciderai citra islami yang disandang.
  1. IMM adalah organisai seumur hidup
Sebagai organisasi pergerakan, IMM tidak hanya mengisi periode kepengurusanya dengan program kerja dan tugas-tugas kampus. Meniupkan ruh ideologi Muhammadiyah pada anggotanya, menajamkan nalar intelektual dan kepedulian sosial menjadi agenda utama. Sebuah agenda yang hanya menjadi ilusi ketika tidak dibarengi dengan kesunguhan pimpinan. Sudah barang tentu bukan perkara kecil, apalagi dengan heterogenitas input yang menjadi tantangan, terutama bagi pimpinan untuk menjadikan IMM sebuah mesin pemroses manusia serba canggih, yang mana mampu menghasilkan output terbaik dari bahan apapun. Inilah yang paling membedakan dengan BEM, HM, DPM dan UKM. Ketika kepengurusan berganti, berganti pula haluannya. Di IMM ketika kepengurusan berganti, hanya kulturnya yang bisa berubah. Tidak untuk haluan dan ideologi. Hal tersebut lah yang membuat alumni-alumni IMM tetap terikat dalam ikatan berbingkai ideologi. Dan ideologi tersebut melekat sebagai bekal menyikapi kehidupan sebagai manusia seutuhnya. Sesuai statement buya Safii Maarif, “kerja intelektual adalah kerja seumur hidup”.
  1. IMM adalah amal jariyah
Dunia ini hanyalah senda gurau, permainan. Garis finish kemenangannya yang di kejar adalah surga sebagai implikasi dari ridla dan rahmat Allah. Surga yang disediakan bagi pemenang pun bermacam-macam levelnya, yang mana surga VIP sebagai level tetinggi adalah surganya para nabi. Analogi sederhana, manusia bisa masuk surga dengan beribadah rutin. Artinya untuk mencapai surga dengan level tinggi, maka ibadah yang dilakukan harus memiliki intensitas yang tinggi pula. Namun ada kabar gembira, Allah menyediakan paket ibadah spesial yang mana pahala ibadah tersebut tetap mengalir walaupun pelakunya sudah tidak melakukanya, bahkan pelakunya sudah meninggal dunia sekalipun. Paket ibadah spesial tersebut dinamakan Amal Jariyah. Yang dalam hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad disebutkan ada tiga, yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Dalil selanjutnya riwayat dari Muslim yang berbunyi, “Barangsiapa yang menunjukkan (mengajarkan) suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala pengamalnya. (HR. Muslim)”. IMM adalah distributor paket ibadah spesial yang memiliki banyak kelebihan dalam hal ini. Perjuangan estafet dari periode ke periode ditambah kerja intelektual seumur hidup dimanapun, siapapun, dan apapun menjadi pohon kebaikan yang memiliki dahan dan ranting pahala begitu majemuk.
  1. IMM adalah rumah besar
Sebagai anak kandung Muhammadiyah, IMM memiliki peran strategis dalam persyarikatan ini. Selain sebagai eksponen Muhammadiyah dalam ranah kemahasiswaan, IMM juga membidani lahirnya embrio pemimpin-pemimpin Muhammadiyah masa depan. Hal ini menjadi kerangka baku, karena mengabaikan IMM sama saja mengabaikan Muhammadiyah. Dari sini kader IMM boleh berbangga karena memiliki rumah yang besar. Muhammadiyah sebagai organisasi yang digadang-gadang sebagai organisasi paling modern di dunia, dengan perkembangan yang tidak ketinggalan dengan bergulirnya zaman, demokratis, serta tertib administrasi yang menjadi cirinya menjadi arena yang sangat kondusif dalam mengembangkan potensi. Namun perlu diingat, jika diibaratkan, kini Muhammadiyah seperti gajah yang sangat gemuk, sehingga untuk berjalan saja sudah kepayahan. Artinya Kebesaran Muhammadiyah berbanding lurus dengan besarnya tantangan dan persoalan yang harus dihadapi. Butuh mental baja, kecerdasan, keihlasan untuk benar-benar memperjuangkan.
  1. IMM adalah kemenangan demi kemenangan
Begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh di IMM. Mulai dari keluarga baru, pengalaman, melatih publik speaking, kepemimpinan, menghargai perbedaan, disiplin, kerjasama, amanah, simpati, empati, dan masih banyak lagi. Yang apapun cita-citanya nanti semua itu dibutuhkan. Pada dasarnya ketika kelak berkeluarga, itu sama saja berorganisasi dengan lingkup kecil. Namun sama saja membutuhkan kemampuan yang disebutkan diatas. Yang mana suami menjadi leader dan Istri menjadi manager dan pasti akan menghadapi persoalan-persoalan harus dihadapi. Begitupun di IMM, akan dihadapkan dengan persoalan-persoalan. Dari yang sederhana sampai membuat kita susah tidur. Dari rapat yang diundang 20 yang hadir 2, dari kegiatan yang kekurangan dana, dan masih banyak lagi. Namun semua akan berujung Indah, walaupun kadang kita sampai mempertanyakan kepada Tuhan, kenapa ujungnya terlalu jauh. Namun bukankah ketika menonton pertandingan sepakbola dan mendukung salah satu tim, kebahagiaan tertinggi ketika tim yang di dukung akhirnya menceploskan di menit-menit akhir hingga akhirnya menggondol kemenangan. Bukan main girangnya. Kepahitan demi kepatihan yang menjadi manis diakhir menjadi cara tuhan menempa dan menaikan derajat manusia. Wallahu a’lam bis showab.
Jangan berharap mencapai puncak, jika tidak bersedia mendaki. mendakilah bersama IMM dan rasakan kebahagiaan demi kebahagiaan di puncak. Semakin tinggi puncak, semakin tinngi pula kebahagiaan.

0 komentar:

Posting Komentar